PORTAL7.CO.ID - Klub raksasa asal London, Chelsea, baru saja mencatatkan tinta merah yang mengkhawatirkan dalam sejarah finansial mereka. Berdasarkan laporan terbaru, klub berjuluk The Blues ini mengalami defisit keuangan yang sangat signifikan pada musim 2024/2025. Angka kerugian ini menjadi sorotan tajam bagi para pemerhati sepak bola dunia. Kabar buruk ini muncul setelah otoritas sepak bola Eropa merilis data keuangan resmi mereka.

Otoritas kesatuan asosiasi sepak bola Eropa (UEFA) mengungkapkan bahwa Chelsea menderita kerugian sebelum pajak sebesar 355 juta pound sterling. Jika dikonversikan ke mata uang rupiah, jumlah tersebut mencapai hampir Rp 8,02 triliun. Laporan resmi ini dirilis pada pekan ini dan langsung memicu perbincangan hangat di kalangan publik. Nilai tersebut mencerminkan kondisi ekonomi klub yang sedang dalam tekanan hebat.

Angka fantastis tersebut kini tercatat sebagai kerugian tahunan paling besar sepanjang sejarah klub sepak bola profesional di Inggris. Belum pernah ada tim Premier League lain yang menyentuh angka defisit sedalam ini dalam kurun waktu satu tahun. Pencapaian negatif ini melampaui berbagai rekor finansial buruk yang pernah ada sebelumnya. Hal ini menunjukkan tantangan besar bagi manajemen klub dalam menyeimbangkan neraca keuangan.

Dalam skala yang lebih luas, posisi Chelsea kini berada di urutan kedua sebagai klub dengan kerugian terbesar di Benua Biru. UEFA menempatkan The Blues tepat di bawah raksasa Spanyol, Barcelona, yang pernah mengalami krisis serupa. Barcelona sendiri tercatat merugi sekitar 484 juta pound sterling pada tahun 2021 silam. Perbandingan ini menunjukkan betapa seriusnya situasi finansial yang tengah dihadapi oleh kubu London Barat.

Dampak dari laporan keuangan ini diprediksi akan memengaruhi kebijakan transfer pemain Chelsea di masa mendatang. Manajemen klub kemungkinan besar harus melakukan efisiensi besar-besaran demi memenuhi regulasi finansial yang ketat. Tekanan dari badan sepak bola Eropa bisa saja berujung pada sanksi jika tidak segera ditangani. Keseimbangan antara belanja pemain bintang dan pendapatan klub menjadi kunci utama pemulihan.

Hingga saat ini, pihak manajemen Chelsea terus berupaya mencari solusi untuk memperbaiki struktur ekonomi internal mereka. Langkah-langkah strategis sedang dipertimbangkan agar klub tetap kompetitif di level domestik maupun internasional. Laporan dari UEFA ini menjadi peringatan keras bagi para pemilik klub di seluruh Eropa mengenai risiko finansial. Fokus utama kini tertuju pada bagaimana The Blues bangkit dari keterpurukan ekonomi ini.

Situasi di Stamford Bridge menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan klub besar memerlukan ketelitian finansial yang tinggi. Rekor kerugian Rp 8,02 triliun ini akan terus membayangi perjalanan Chelsea dalam beberapa musim ke depan. Para pendukung setia tentu berharap klub kesayangan mereka segera menemukan jalan keluar dari krisis ini. Sejarah baru telah tercipta, namun sayangnya bukan prestasi di lapangan hijau yang menjadi sorotan.

Sumber: Beritasatu

https://www.beritasatu.com/sport/2971445/terbesar-dalam-sejarah-inggris-chelsea-disebut-uefa-merugi-rp-8-t