PORTAL7.CO.ID - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bahwa capaian program konversi sepeda motor dari mesin bensin menjadi motor listrik di Indonesia masih tergolong rendah. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, program tersebut hanya berhasil merealisasikan konversi sebanyak 2.278 unit kendaraan.
Angka ini menunjukkan bahwa capaian program pemerintah tersebut masih jauh dari target ambisius yang telah ditetapkan sebelumnya. Meskipun demikian, terjadi lonjakan signifikan pada tahun 2024, di mana sebanyak 1.352 unit motor berhasil dikonversi.
Peningkatan realisasi pada tahun 2024 tersebut didorong oleh adanya stimulus subsidi sebesar Rp 10 juta per unit yang diberikan oleh pemerintah. Subsidi ini menjadi momentum penting bagi para pemilik kendaraan sebelum program insentif tersebut berakhir masa berlakunya.
Harga Pajak Tahunan Toyota Kijang Innova Zenix 2026 di Jakarta Melonjak, Tembus Rp 7 Jutaan
Kepala BBSP KEBTKE Kementerian ESDM, Trois Dilisusendi, mengidentifikasi beberapa kendala utama yang menghambat percepatan adopsi program konversi ini secara masif di masyarakat. Kendala tersebut mencakup rendahnya kesadaran publik, keterbatasan finansial pemilik, serta keraguan terkait aspek administrasi.
Selain faktor non-teknis, Trois Dilisusendi juga menyoroti adanya keraguan dari masyarakat terkait performa mesin motor listrik hasil konversi. Hal ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dalam upaya mendorong elektrifikasi transportasi darat.
"Kemarin kami diskusi dengan teman-teman Grab, Gojek, inDrive dan semua ojol, salah satu isunya adalah spesifikasi motor listrik itu sendiri. Misalnya, Pak, motornya takut nggak bisa nanjak. Saya bayangkan, motor yang mendapat bantuan kita buat standar," ujar Trois Dilisusendi, Kepala BBSP KEBTKE Kementerian ESDM.
Persoalan infrastruktur pengisian daya juga menjadi hambatan serius yang dihadapi oleh pengguna kendaraan roda dua listrik. Berbeda dengan mobil listrik yang sistem pengisian dayanya sudah mulai terstandarisasi, motor listrik masih menghadapi isu standarisasi pengisian daya di pasar.
"Charger mobil listrik sudah no issue, tapi kalau motor listrik masih menjadi issue. Kemudian berkaitan dengan nilai aset EV-nya. Karena once sudah dikonversi, harga motor EV relatif tidak stabil seperti ICE," kata Trois Dilisusendi, Kepala BBSP KEBTKE Kementerian ESDM.
Fluktuasi nilai jual kembali motor listrik hasil konversi turut memengaruhi minat masyarakat untuk beralih. Kondisi ini berbeda dengan motor bermesin pembakaran internal (ICE) yang nilai asetnya cenderung lebih stabil di pasar otomotif nasional.