Aku selalu percaya bahwa semangat muda adalah modal utama untuk menaklukkan dunia, dan proyek restorasi rumah budaya tua itu adalah manifestasi dari keyakinan tersebut. Dengan mata penuh idealisme, aku mengucurkan seluruh tabungan dan energi, yakin bahwa visi yang murni pasti akan menemukan jalannya sendiri menuju keberhasilan. Kami bekerja siang malam, menari di antara debu dan impian, seolah kegagalan hanyalah mitos yang diceritakan orang-orang pesimis.
Semua berjalan indah di atas kertas, namun realitas pasar dan manajemen operasional ternyata jauh lebih kejam daripada yang pernah kami bayangkan. Aku terlalu fokus pada keindahan hasil akhir hingga lupa membangun fondasi yang kokoh. Aku mengira gairah bisa membayar tagihan dan mengelola sumber daya, sebuah kesalahan fatal yang kini terasa begitu naif.
Pagi itu, telepon dari bank datang seperti palu godam yang menghancurkan seluruh menara impianku menjadi serpihan. Proyek kami kolaps, menyisakan utang yang tak terbayangkan dan rasa malu yang menusuk hingga ke tulang. Dunia yang selama ini kurasa berada dalam genggamanku tiba-tiba berputar liar, melemparkanku ke dalam jurang gelap yang dingin dan sunyi.
Dalam beberapa minggu pertama, aku hanya ingin menghilang, mematikan ponsel, dan berpura-pura bahwa Aruna yang idealis itu tidak pernah ada. Beban tanggung jawab atas tim kecil yang kini kehilangan pekerjaan, serta janji-janji yang tak terpenuhi kepada para investor, terasa seperti rantai besi yang mengikat langkahku. Aku menyadari, idealismeku telah menjadi kemewahan yang tak mampu kubayar.
Namun, di tengah kehancuran itu, aku menemukan sebuah kekuatan yang sebelumnya tak kuketahui keberadaannya. Bukan kekuatan untuk membangun kembali dengan cepat, melainkan kekuatan untuk mengakui kesalahan dan menghadapi konsekuensinya tanpa lari. Aku mulai menyusun daftar utang, bertemu satu per satu dengan mereka yang kurugikan, dan menawarkan satu-satunya aset yang tersisa: kejujuran dan janji untuk membayar kembali, sekecil apa pun cicilannya.
Proses itu melelahkan, merangkak dari satu pekerjaan serabutan ke pekerjaan lainnya, jauh dari sorotan dan tepuk tangan yang dulu kuharapkan. Aku belajar menghitung setiap rupiah, menunda setiap keinginan, dan memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas ambisiku sendiri. Kedewasaan ternyata bukan tentang mencapai puncak, melainkan tentang ketekunan membersihkan puing-puing di lembah.
Inilah babak paling penting dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis. Di sinilah aku mengerti bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan editor paling jujur yang mengoreksi naskah jiwaku. Aku tidak lagi mencari pengakuan, melainkan mencari kestabilan, sebuah ketenangan yang hanya bisa didapatkan dari integritas dan kerja keras yang senyap.
Aruna yang sekarang mungkin tidak sebersemangat Aruna yang dulu, tetapi ia jauh lebih bijaksana dan membumi. Bekas luka finansial dan emosional itu kini menjadi peta yang menuntunku, mengingatkan bahwa fondasi harus selalu lebih kuat daripada fasad.
Pengalaman pahit itu mengajarkanku bahwa kedewasaan sejati adalah kemampuan untuk menanggung beban yang kita ciptakan sendiri, dan bangkit dengan kerendahan hati. Lantas, ketika aku akhirnya mampu melunasi utang terakhir, apakah aku akan kembali mengejar impian besar yang sama, ataukah aku akan menemukan makna baru dalam kesederhanaan?
