Aku selalu percaya bahwa hidup adalah deretan persamaan yang harus diselesaikan dengan sempurna. Sejak remaja, aku memprogram jalanku: studi terbaik, karier cemerlang, dan rencana masa depan yang terperinci hingga hitungan bulan. Aku melihat ketidaksempurnaan sebagai musuh yang harus dihindari dengan segala daya.

Rencana besarku, yang kuberi nama Proyek Seribu Hari, adalah puncak dari keyakinan itu. Ini bukan hanya tentang pekerjaan; ini adalah manifestasi dari harga diriku, sebuah janji bahwa aku bisa mengendalikan setiap variabel. Aku menginvestasikan segalanya, dari waktu tidur hingga energi emosional, memastikan tidak ada celah untuk kesalahan.

Namun, semesta rupanya punya selera humor yang gelap terhadap obsesi kontrol. Tepat pada saat aku pikir garis finis sudah terlihat, badai tak terduga datang menghantam, memporakporandakan fondasi proyekku hingga tak bersisa. Kegagalan itu bukan disebabkan oleh kecerobohanku, melainkan oleh kekuatan pasar yang brutal dan tak terduga.

Untuk beberapa pekan, aku hidup dalam kabut tebal penyesalan dan rasa malu yang mendalam. Cermin di kamarku seolah memantulkan bayangan orang asing, seseorang yang kehilangan peta dan kompas di tengah gurun. Aku merasa telah mengecewakan semua orang, terutama diriku sendiri yang telah berjanji untuk selalu menang.

Di titik terendah itulah, saat aku duduk di lantai dingin sambil memandangi sisa-sisa rencanaku yang tercabik, sebuah kesadaran pahit mulai merayap masuk. Kedewasaan bukanlah tentang membangun benteng agar tidak ada yang bisa menyakitimu, melainkan tentang belajar bagaimana hidup dengan dinding yang sudah retak. Aku harus melepaskan ilusi bahwa aku adalah sutradara tunggal dari takdirku.

Pelajaran ini adalah babak paling krusial dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis, sebuah babak yang tidak pernah aku rencanakan. Aku menyadari bahwa kegagalan bukanlah akhir dari kisah, melainkan sebuah jeda dramatis yang memaksa kita untuk menyusun ulang alur cerita dengan karakter yang lebih kuat.

Perlahan, aku mulai merangkai ulang kepingan diriku, kali ini tanpa tekanan untuk mencapai kesempurnaan yang mustahil. Aku belajar menerima ketidakpastian sebagai bagian dari keindahan perjalanan, seperti sungai yang tidak pernah mengalir dalam garis lurus. Aku mulai menghargai proses kecil, bukan hanya hasil besar.

Aku menemukan bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada kemampuan untuk menghindari jatuh, melainkan pada kecepatan dan ketulusan hati saat kita memutuskan untuk bangkit kembali. Kedewasaan adalah menerima bahwa kita tidak akan pernah selesai belajar, dan bahwa setiap luka adalah ukiran yang memperkaya jiwa.

Maka, biarlah Proyek Seribu Hari itu menjadi puing. Puing itu kini menjadi pengingat yang berharga: bahwa menjadi dewasa adalah tentang menemukan kedamaian di tengah kekacauan, dan bahwa kisah terbaik sering kali dimulai setelah kita berani menutup buku yang salah.