Aku selalu berpikir kedewasaan adalah pencapaian usia, sebuah garis finish yang ditandai dengan angka cantik di kartu identitas. Sebelum badai itu datang, aku hidup dalam gelembung idealisme; bahwa passion dan kerja keras saja cukup untuk menaklukkan dunia bisnis yang kejam. Aku merayakan setiap kemenangan kecil, lupa bahwa fondasi yang kubangun masih terbuat dari pasir.
Tiba-tiba, semuanya runtuh. Proyek impian yang kubangun bersama beberapa teman terpaksa gulung tikar karena masalah internal yang tak terduga dan tuntutan tanggung jawab finansial yang melilit. Rasa malu dan pengkhianatan menjadi beban yang jauh lebih berat daripada tumpukan utang yang harus kuhadapi sendirian.
Malam-malamku dipenuhi rasa sesal yang menusuk, seolah aku telah mengecewakan tidak hanya diriku sendiri, tetapi juga semua orang yang pernah percaya pada visiku. Aku ingin lari, menghilang, dan kembali menjadi diriku yang naif, yang belum pernah merasakan pahitnya menanggung konsekuensi.
Namun, lari bukanlah pilihan. Aku harus mengirim surel permintaan maaf, menghadapi tatapan kecewa para investor kecil, dan merancang rencana pembayaran yang terasa mustahil. Inilah kali pertama aku benar-benar mengerti arti tanggung jawab yang sesungguhnya, bukan sekadar kata-kata manis di buku motivasi.
Dalam keputusasaan, nenekku yang bijaksana pernah berkata, “Nak, kegagalan bukan akhir, itu adalah pena yang menulis ulang babakmu. Hanya mereka yang berani mengakui kesalahan dan berdiri tegak yang layak disebut dewasa.” Kata-kata itu menamparku, menyadarkanku bahwa kedewasaan adalah tentang ketahanan, bukan kesempurnaan.
Aku mulai bangkit perlahan, mengambil pekerjaan serabutan, dan menyisihkan setiap rupiah untuk melunasi janji-janji yang telah kubuat. Proses ini adalah babak paling jujur dan paling sulit dalam hidupku. Aku menyadari bahwa ini adalah esensi sejati dari sebuah Novel kehidupan, di mana karakter utama harus dihancurkan terlebih dahulu untuk bisa dibangun kembali menjadi lebih kuat.
Setiap negosiasi yang kulakukan, setiap penolakan yang kuterima, mengikis lapisan keangkuhan dan naivitas yang dulu melekat erat. Aku belajar bahwa integritas jauh lebih berharga daripada keuntungan instan, dan kepercayaan yang hilang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan.
Saat ini, beban finansial itu sudah terangkat, dan proyek baru sudah berjalan di jalur yang lebih bijak. Namun, Risa yang sekarang sangat berbeda dengan Risa yang dulu. Aku tidak lagi takut pada kegagalan; aku justru menghargainya sebagai guru termahal.
Kedewasaan yang kudapatkan bukan hadiah ulang tahun, melainkan bekas luka dari pertempuran yang kulalui. Jika dulu aku mencari kemudahan, kini aku mencari ketangguhan. Sebab, di antara puing-puing mimpi yang hancur, aku menemukan fondasi diriku yang sesungguhnya, siap menghadapi babak apa pun yang akan dituliskan takdir selanjutnya.
