Aku selalu membayangkan hidupku seperti garis lurus yang rapi, terbentang dari titik A ke titik B tanpa hambatan berarti. Di usia muda, aku yakin bahwa segala sesuatu bisa diatur dengan perencanaan matang dan sedikit keberuntungan. Dunia bagiku adalah kanvas cerah yang hanya menunggu sentuhan kuas kebahagiaan.
Namun, kenyataan sering kali datang tanpa permisi, seperti badai yang menyapu bersih semua peta yang telah kita susun. Titik balik itu datang saat aku harus menghadapi sebuah kehilangan besar yang tak hanya merenggut pilar kehidupanku, tetapi juga mewariskan tanggung jawab yang jauh melampaui kapasitas emosionalku saat itu. Tiba-tiba, aku harus menjadi nahkoda di kapal yang bocor.
Awalnya, aku hanya merasakan kekosongan dan keputusasaan yang menusuk. Aku meronta, mempertanyakan mengapa takdir begitu kejam merenggut masa mudaku dan menggantinya dengan beban berat yang tak sanggup kupikul. Setiap pagi adalah pertarungan untuk sekadar memaksa diri bangkit dan menghadapi daftar kewajiban yang terasa mencekik.
Aku belajar bahwa dunia orang dewasa tidak mengenal kata ‘istirahat’ atau ‘penundaan’. Aku harus mengurus dokumen, menghadapi tatapan sinis orang yang meragukan kemampuanku, dan yang paling sulit, belajar membedakan mana tangan yang benar-benar menolong dan mana yang hanya ingin memanfaatkan kerapuhanku. Pengkhianatan kecil terasa lebih menyakitkan daripada kegagalan besar.
Di tengah kelelahan mental yang akut, aku mulai menyadari bahwa setiap kesulitan yang kualami adalah babak penting yang harus kulalui. Inilah yang disebut orang sebagai Novel kehidupan, sebuah mahakarya yang ditulis oleh takdir, bukan oleh imajinasi masa mudaku yang serba mudah. Aku harus berhenti menjadi pembaca pasif dan mulai mengambil pena untuk menuliskan babakku sendiri.
Proses pendewasaan ini terasa seperti metamorfosis yang menyakitkan; kulit lama harus dikoyak agar sayap baru bisa tumbuh. Aku menemukan kekuatan di tempat yang tak pernah kuduga, yaitu dalam keheningan saat aku harus membuat keputusan sulit sendirian. Rasa takut tidak hilang, tetapi kini ia bersembunyi di balik keberanian yang baru terbentuk.
Aku tidak lagi mencari jalan lurus; aku menerima bahwa hidup adalah labirin dengan banyak jalan buntu dan tikungan tajam. Kompas lamaku mungkin telah patah, tetapi aku kini punya navigasi yang lebih baik: intuisi dan pengalaman pahit yang telah mengeras menjadi kebijaksanaan.
Jika dulu aku mendefinisikan kedewasaan sebagai pencapaian target, kini aku tahu, kedewasaan sejati adalah kemampuan untuk berdiri tegak setelah badai mereda, sambil membawa luka yang telah berubah menjadi lencana kehormatan. Namun, apakah kedewasaan ini berarti aku harus kehilangan seluruh cahaya dan tawa yang pernah kumiliki?
