PORTAL7.CO.ID - Ribuan warga negara Indonesia yang menjadi korban adopsi ilegal ke Belanda pada rentang waktu antara tahun 1970 hingga 1980 kini tengah menghadapi perjuangan berat untuk memulihkan status kewarganegaraan mereka. Mereka menghadapi tantangan hukum dan administratif yang kompleks.

Para penyintas ini belakangan menemukan bukti bahwa proses pemindahan mereka keluar negeri pada masa itu didasarkan pada serangkaian manipulasi dokumen kependudukan yang dilakukan secara sistematis. Fakta ini menjadi titik balik dalam hidup mereka.

Salah satu individu yang terdampak dari praktik gelap ini adalah Indra Jaya Kelana, yang merupakan penyintas kelahiran Bandung pada tahun 1982. Indra baru mengetahui kebenaran mengenai status adopsi ilegalnya tersebut ketika usianya menginjak sepuluh tahun.

Kebenaran pahit ini diungkapkan langsung oleh ayah angkatnya, Armene Manuel Oudkerk Pool, kepada Indra Jaya Kelana. Pengungkapan ini mengguncang seluruh pemahaman Indra tentang asal-usulnya dan ikatan keluarga kandungnya.

"Ayah angkatnya, Armene Manuel Oudkerk Pool, mengungkapkan rahasia tersebut, yang kemudian mengubah seluruh pandangan Indra tentang identitas dan keluarga aslinya," demikian dikutip dari JABARONLINE.COM.

Perjuangan hukum yang kini dihadapi oleh para penyintas ini berpusat pada pengakuan resmi atas identitas mereka sebagai Warga Negara Indonesia yang sah. Mereka menuntut keadilan atas nasib yang dirampas sejak masa kanak-kanak.

Kasus adopsi ilegal masif pada era tersebut mencerminkan adanya celah besar dalam pengawasan administrasi kependudukan Indonesia di masa lalu. Hal ini memungkinkan praktik tidak etis tersebut dapat berlangsung selama satu dekade penuh.

Kini, para penyintas tersebut berupaya keras melalui jalur hukum dan lobi diplomatik di Belanda maupun Indonesia agar pemerintah mengakui hak mereka untuk memegang kembali paspor dan identitas Indonesia yang seharusnya menjadi milik mereka.

Dampak psikologis dari penemuan identitas palsu ini juga sangat besar, memaksa para penyintas untuk menelusuri kembali akar budaya dan keluarga yang terputus secara paksa. Mereka mencari koneksi yang hilang.