PORTAL7.CO.ID - Tensi politik di Timur Tengah yang kian memanas memicu kekhawatiran akan lonjakan harga minyak mentah global dalam waktu dekat. Situasi ini diprediksi bakal memberikan tekanan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat Indonesia, khususnya para pelaku usaha perikanan. Sebagai langkah preventif, pemerintah mulai menyiapkan berbagai strategi untuk melindungi ketahanan energi nasional dari guncangan pasar internasional.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI secara resmi memulai uji coba penggunaan armada kapal bertenaga listrik bagi para nelayan harian. Inisiatif ini difokuskan pada skema *one day fishing* yang tersebar di sejumlah wilayah strategis di tanah air. Menteri KKP, Sakti Wahyu Trenggono, memantau langsung implementasi teknologi ini saat berkunjung ke Banyuwangi pada Selasa (3/3/2026).
Kunjungan kerja tersebut dilakukan di tengah peninjauan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih yang berlokasi di Kelurahan Lateng, Banyuwangi. Dalam pelaksanaannya, KKP menggandeng institusi pendidikan melalui Dikti serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mematangkan teknologi kapal listrik tersebut. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem energi baru terbarukan yang lebih efisien bagi nelayan. "Pemerintah sekarang tengah melakukan langkah-langkah jangka panjang salah satunya dengan membangun bio diesel, energi baru terbarukan di seluruh sektor," tegas Sakti Wahyu Trenggono. Ia mengakui bahwa ketergantungan armada nelayan terhadap bahan bakar minyak (BBM) masih sangat tinggi hingga saat ini. Oleh karena itu, peralihan ke energi listrik menjadi solusi mendesak guna menjaga stabilitas operasional sektor kelautan.
Potensi kenaikan harga minyak dunia memang menjadi ancaman serius bagi biaya operasional penangkapan ikan yang didominasi penggunaan solar dan bensin. KKP menyadari bahwa fluktuasi harga energi global akan langsung berdampak pada harga jual komoditas perikanan di pasar domestik. Program elektrifikasi kapal ini diharapkan dapat memangkas biaya operasional nelayan secara signifikan di masa depan.
Di Banyuwangi sendiri, terdapat sekitar 25.000 warga yang menggantungkan hidupnya sebagai nelayan dengan kebutuhan BBM yang cukup besar. Rata-rata perahu kitir membutuhkan hingga 40 liter bensin atau 20 liter solar untuk satu kali melaut mencari ikan. Sementara itu, kapal jenis slerek membutuhkan konsumsi bahan bakar yang jauh lebih besar yakni mencapai dua kali lipat dari perahu biasa.
Meskipun bayang-bayang krisis energi menghantui, para nelayan lokal seperti Husen dari Kelurahan Lateng tetap menaruh kepercayaan penuh pada kebijakan pusat. Ia meyakini bahwa pemerintah pasti akan menghadirkan solusi terbaik bagi rakyat kecil dalam menghadapi masa sulit ini. Inovasi kapal listrik ini menjadi secercah harapan bagi keberlanjutan ekonomi maritim Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Sumber: Infonasional