PORTAL7.CO.ID - Perbedaan dalam penentuan tanggal 1 Syawal 1447 Hijriah kembali menjadi sorotan publik menjelang hari raya Idul Fitri tahun ini. Hal ini timbul akibat variasi pendekatan metodologis yang diterapkan oleh berbagai pihak dalam menentukan awal bulan Syawal di Indonesia.
Pemerintah, melalui Kementerian Agama (Kemenag), secara resmi menggunakan mekanisme sidang isbat yang menggabungkan observasi hilal (rukyatul hilal) dan perhitungan astronomis (hisab). Metode ini menjadi landasan utama keputusan hari raya di tingkat nasional.
Di sisi lain, beberapa organisasi kemasyarakatan Islam besar, seperti Muhammadiyah, telah menetapkan tanggal 1 Syawal lebih awal. Keputusan mereka didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal yang mereka yakini memiliki dasar perhitungan yang kuat.
Sementara itu, organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan sejumlah ormas Islam lainnya cenderung mengikuti hasil rukyat yang ditetapkan oleh pemerintah melalui sidang isbat tersebut. Perbedaan ini mencerminkan keragaman dalam khazanah fikih Islam di Indonesia.
Secara spesifik, pemerintah melalui Kemenag telah menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026, menyusul pelaksanaan sidang isbat. Keputusan ini berbeda dengan perhitungan Muhammadiyah yang menetapkan hari raya jatuh sehari sebelumnya, Jumat, 20 Maret 2026, berdasarkan Hisab berbasis Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Menanggapi dinamika ini, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sulawesi Utara (Sulut), H. Ulyas Taha, mengeluarkan imbauan penting bagi seluruh elemen masyarakat dan tokoh agama. Ia mengajak semua pihak untuk menunjukkan sikap saling menghormati terhadap perbedaan yang muncul.
"Kita harus menjaga ukhuwah Islamiyah. Jangan sampai perbedaan hari raya justru memecah persatuan umat," ujar Kakanwil Kemenag Sulut, H. Ulyas Taha, menekankan pentingnya persatuan.
Beliau menilai bahwa perbedaan dalam penetapan tanggal ini merupakan hal yang lumrah dan wajar dalam spektrum fikih Islam. Menurutnya, setiap metode yang digunakan memiliki dasar dalil serta pertanggungjawaban ilmiah dan syar’i masing-masing.
Kakanwil juga mengingatkan bahwa esensi utama dari perayaan Idul Fitri adalah pengembalian diri pada kesucian fitrah. Selain itu, momentum ini harus digunakan untuk mempererat tali silaturahmi dan menumbuhkan sikap saling menghargai antar sesama Muslim.