PORTAL7.CO.ID - Dalam arsitektur spiritual Islam, hubungan antara landasan teologis dan manifestasi amal merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Akidah yang kokoh, yang berakar pada pemahaman tauhid yang murni, menjadi fondasi utama bagi setiap gerak-gerik seorang hamba di dunia. Tanpa pemahaman ontologis yang tepat mengenai siapa Tuhan yang disembah, maka setiap peribadatan akan kehilangan arah dan maknanya yang terdalam. Oleh karena itu, setiap Muslim dituntut untuk menyelaraskan antara keyakinan hati dengan orientasi tindakan agar mencapai derajat penghambaan yang paripurna.
Salah satu manifestasi kemurnian tauhid tersebut terangkum dengan sangat indah dan padat dalam Surah Al-Ikhlas. Surah ini bukan sekadar bacaan rutin dalam shalat, melainkan sebuah proklamasi kemurnian zat dan sifat Allah dari segala bentuk penyerupaan (tasybih) maupun peniadaan (ta’thil). Para ulama menegaskan bahwa memahami surah ini adalah kunci untuk mengenal Allah secara esensial, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya yang utuh berikut ini:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Terjemahan: "Katakanlah (Muhammad), 'Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia'." (QS. Al-Ikhlas: 1-4)
Rasulullah SAW telah memberikan panduan yang sangat komprehensif mengenai kedudukan niat ini. Beliau menekankan bahwa nilai dari sebuah tindakan, meskipun secara lahiriah terlihat sama, dapat memiliki nilai yang sangat kontras di mata Allah bergantung pada motivasi yang mendasarinya. Hadis yang sangat masyhur ini menjadi barometer utama dalam setiap bab fiqih dan akhlak, sebagaimana sabda beliau:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Terjemahan: "Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikejarnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya terhenti pada apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim)
Penyatuan antara tauhid yang murni dan niat yang tulus akan melahirkan keikhlasan yang hakiki. Seseorang yang telah memahami bahwa Allah adalah "Ash-Shamad" (tempat bergantung segala sesuatu), maka secara otomatis ia tidak akan mencari pujian atau pengakuan dari makhluk dalam beramal. Seluruh orientasi hidupnya akan terangkum dalam sebuah komitmen ibadah yang tulus, sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam Al-Quran:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Terjemahan: "Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (Muslim)'." (QS. Al-An'am: 162-163)
Keagungan seorang hamba di sisi Allah ditentukan oleh kualitas batinnya. Dalam sebuah hadis yang sangat menyentuh, Rasulullah SAW mengingatkan kita semua untuk senantiasa memperhatikan kondisi hati, karena hati adalah tempat di mana Allah memberikan penilaian-Nya yang paling utama terhadap seorang hamba:
إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ، وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Terjemahan: "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian dan amal perbuatan kalian." (HR. Muslim)