PORTAL7.CO.ID - Di tengah hiruk-pikuk peradaban modern yang serba cepat, umat Islam kini dihadapkan pada tantangan spiritual yang belum pernah terjadi sebelumnya. Arus disrupsi teknologi tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi dan bekerja, namun juga mulai mengikis fondasi keyakinan terdalam jika tidak dibarengi dengan pemahaman akidah yang kokoh. Menjaga kemurnian tauhid di era ini bukan lagi sekadar menghafal rukun iman, melainkan sebuah perjuangan eksistensial untuk memastikan bahwa hati kita tetap terpaut sepenuhnya kepada Sang Pencipta di tengah godaan dunia yang kian menyilaukan.

Hakikat tauhid yang sesungguhnya menuntut penyerahan total seluruh dimensi kehidupan, baik yang bersifat privat maupun publik, hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tauhid merupakan komitmen fundamental yang membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan kepada makhluk dan mengarahkannya pada kemerdekaan spiritual yang sejati. Allah menegaskan dalam firman-Nya mengenai esensi pengabdian yang utuh dan menyeluruh sebagai identitas utama seorang mukmin yang bertauhid.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Terjemahan: Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (muslim)." (QS. Al-An'am: 162-163)

Kecanggihan teknologi dan kemudahan akses informasi seharusnya menjadi sarana untuk semakin mengenal keagungan Allah, bukan justru menjadi tirai yang menghalangi pandangan batin kita. Setiap algoritma dan inovasi yang kita nikmati saat ini adalah bagian dari sunnatullah yang semestinya mempertebal rasa syukur dan ketundukan kita. Tanpa filter tauhid yang kuat, manusia modern akan mudah terjebak dalam kehampaan spiritual meskipun mereka dikelilingi oleh kemewahan fasilitas fisik yang serba instan.

Penting bagi setiap Muslim untuk menyadari bahwa misi utama para Rasul sejak zaman dahulu adalah untuk memurnikan peribadatan dan menjauhkan manusia dari segala bentuk thaghut (sesembahan selain Allah). Dalam konteks kekinian, thaghut bisa bermanifestasi dalam bentuk ideologi-ideologi sekuler yang memisahkan nilai-nilai agama dari kehidupan sosial dan ekonomi. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengingatkan tujuan pengutusan para Rasul ini dengan sangat jelas dalam Al-Quran.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Terjemahan: Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah, dan jauhilah thaghut", kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (QS. An-Nahl: 36)

Sejarah Islam telah membuktikan bahwa kekuatan tauhid mampu mengubah masyarakat yang jahiliah menjadi peradaban yang mulia dan beradab. Para sahabat Nabi radhiyallahu 'anhum tidak pernah merasa gentar menghadapi tantangan zaman karena hati mereka telah dipenuhi oleh kemanisan iman yang tak tertandingi oleh materi apa pun. Kelezatan iman tersebut hanya dapat diraih ketika cinta kepada Allah dan Rasul-Nya telah melampaui segala kecintaan terhadap perhiasan duniawi.

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Terjemahan: Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka. (HR. Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)

Sebagai penutup, marilah kita senantiasa memanjatkan doa agar Allah Subhanahu wa Ta'ala menjaga hati kita agar tetap istiqamah di atas jalan kebenaran. Kita menyadari bahwa tanpa hidayah dan pertolongan-Nya, sangatlah sulit bagi seorang hamba untuk mempertahankan kemurnian imannya di tengah arus fitnah akhir zaman yang kian dahsyat. Semoga kita termasuk golongan hamba yang wafat dalam keadaan membawa tauhid yang sempurna.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ