PORTAL7.CO.ID - Ibadah shalat merupakan poros utama dalam arsitektur spiritualitas Islam yang menghubungkan secara langsung antara Khaliq dan makhluk. Secara terminologi fiqih, shalat dipahami sebagai rangkaian perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Namun, jika kita menyelami lebih dalam, shalat tanpa kekhusyukan ibarat jasad tanpa ruh yang kehilangan daya hidupnya. Shalat yang hakiki adalah sebuah dialog cinta dan ketundukan total, di mana seorang hamba melepaskan segala atribut keduniawian demi bersimpuh di hadapan Rabb semesta alam.

Langkah awal dalam meraih kekhusyukan adalah memahami janji Allah bagi mereka yang mampu menghadirkan hati secara utuh dalam shalatnya. Keberhasilan seorang mukmin di dunia dan akhirat sangat berkorelasi dengan kualitas ketundukan jiwanya saat berdiri di hadapan Sang Pencipta. Hal ini ditegaskan dalam pembukaan Surah Al-Mu'minun yang menjadi landasan ontologis bagi setiap mushalli (orang yang shalat). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman mengenai keberuntungan hamba-hamba-Nya yang beriman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

Terjemahan: "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela." (QS. Al-Mu'minun: 1-6)

Metodologi pencapaian khusyu juga sangat berkaitan dengan konsep *Ihsan*, yakni beribadah seolah-olah kita melihat Allah, atau setidaknya menyadari bahwa Allah senantiasa mengawasi kita. Kesadaran akan "pengawasan Ilahi" ini akan secara otomatis memperbaiki kualitas gerakan dan bacaan shalat kita. Tanpa kesadaran ini, shalat hanya akan menjadi rutinitas mekanis yang hampa makna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan gambaran yang sangat indah mengenai kedalaman spiritual ini dalam hadits panjang yang dikenal sebagai Hadits Jibril:

قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ

Terjemahan: "Lelaki itu berkata lagi: 'Beritahukan kepadaku tentang Ihsan.' Beliau bersabda: 'Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.' Lelaki itu berkata lagi: 'Beritahukan kepadaku tentang hari kiamat.' Beliau bersabda: 'Orang yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.'" (HR. Muslim No. 8)

Namun, kita harus mengakui bahwa jalan menuju khusyu seringkali terjal dan penuh godaan setan yang bernama *Khinzab*, yang tugas khususnya adalah mengganggu orang shalat. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kita untuk memohon pertolongan melalui kesabaran dan shalat itu sendiri, meskipun hal itu terasa berat bagi jiwa-jiwa yang belum tunduk. Shalat yang dilakukan dengan penuh perjuangan untuk khusyu pada akhirnya akan menjadi sumber kekuatan mental yang luar biasa. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Terjemahan: "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS. Al-Baqarah: 45-46)

Lebih jauh lagi, shalat yang khusyu adalah sarana dzikir yang paling agung untuk mengingat Allah di tengah hiruk-pikuk dunia yang seringkali melalaikan. Dengan menjaga shalat, seorang hamba sebenarnya sedang menjaga kewarasannya di bawah naungan wahyu. Kekuatan spiritual yang diperoleh dari kekhusyukan akan menjadi perisai dari segala bentuk kemaksiatan. Hal ini selaras dengan firman Allah yang menekankan fungsi preventif dari ibadah shalat yang dilakukan dengan benar:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Terjemahan: "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ankabut: 45)