PORTAL7.CO.ID - Dalam arsitektur spiritual Islam, doa bukan sekadar rangkaian kata yang terucap dari bibir, melainkan representasi paling murni dari pengakuan seorang hamba akan kefakiran dirinya di hadapan Sang Khalik yang Maha Kaya. Secara teologis, doa dipandang sebagai "sumsum" atau inti dari ibadah karena di dalamnya terkandung unsur ketundukan total dan penafian kekuatan diri selain atas pertolongan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Setiap permohonan yang dipanjatkan adalah jembatan metafisika yang menghubungkan keterbatasan makhluk dengan kemahakuasaan Pencipta yang tanpa batas. Allah Ta'ala sendiri telah memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa bermunajat melalui firman-Nya yang agung:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Terjemahan: "Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina'." (QS. Ghafir: 60)
Namun, dalam kebijaksanaan-Nya yang tak terhingga, Allah menetapkan momentum-momentum tertentu yang memiliki nilai kemuliaan lebih tinggi dibandingkan waktu lainnya. Waktu-waktu mustajab ini bukanlah pembatasan terhadap rahmat Allah, melainkan sebuah undangan istimewa bagi para hamba untuk lebih bersungguh-sungguh dalam meminta. Salah satu waktu yang paling sakral adalah sepertiga malam terakhir, di mana tabir antara langit dan bumi seolah menipis, dan Sang Pencipta memberikan perhatian khusus kepada mereka yang rela meninggalkan tempat tidurnya demi bersujud. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadits qudsi yang sangat masyhur:
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
Terjemahan: "Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: 'Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan! Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri! Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni!'" (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain di kegelapan malam, Islam juga mengajarkan bahwa waktu di antara adzan dan iqamah adalah periode emas yang tidak boleh dilewatkan oleh seorang Muslim. Secara filosofis, waktu ini merupakan masa tunggu yang penuh dengan keberkahan, di mana seorang hamba berada dalam kondisi bersiap untuk menghadap Allah dalam shalat berjamaah. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengajarkan kita untuk mengoptimalkan jeda waktu tersebut dengan permohonan yang tulus, sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang shahih mengenai keutamaan waktu transisi ini:
الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ قَالُوا فَمَاذَا نَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ سَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Terjemahan: "Doa itu tidak akan ditolak di antara adzan dan iqamah. Para sahabat bertanya: 'Lalu apa yang harus kami ucapkan wahai Rasulullah?' Beliau menjawab: 'Mintalah kepada Allah al-afiyah (keselamatan/kesehatan) di dunia dan di akhirat'." (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)
Penting untuk dipahami bahwa terkabulnya doa juga sangat dipengaruhi oleh integritas moral dan kehalalan rezeki yang dikonsumsi. Seorang hamba yang menuntut ijabah namun hatinya lalai dan perutnya terisi dari harta yang haram, ibarat seseorang yang ingin membuka pintu tanpa kunci yang tepat. Oleh karena itu, sinkronisasi antara permohonan lisan dengan keshalihan amal perbuatan adalah syarat mutlak bagi efektivitas sebuah doa. Kedekatan Allah kepada hamba-Nya adalah sebuah kepastian yang harus direspons dengan ketaatan yang tulus agar komunikasi spiritual ini berjalan dua arah secara harmonis.
Sebagai penutup, mari kita renungkan bahwa Allah senantiasa dekat dan mendengar setiap bisikan hati hamba-Nya, baik di waktu mustajab maupun di luar waktu tersebut. Namun, memanfaatkan waktu-waktu istimewa yang telah ditetapkan-Nya adalah bentuk ketaatan dan kecerdasan spiritual seorang mukmin. Keyakinan akan kedekatan Allah ini menjadi penghibur bagi setiap jiwa yang sedang dirundung duka dan penguat bagi setiap raga yang sedang berjuang, sebagaimana ditegaskan dalam ayat yang menyejukkan hati berikut:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Terjemahan: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186)