PORTAL7.CO.ID - Dalam konstelasi teologi Islam, doa bukanlah sekadar rangkaian kata yang terucap dari lisan, melainkan sebuah manifestasi paling murni dari pengakuan eksistensial seorang hamba. Ia adalah "mukhkhul ibadah" atau otak dari ibadah, yang mencerminkan betapa fakirnya manusia di hadapan kemahakayaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ketika seorang Muslim menengadahkan tangan, ia sedang membangun jembatan metafisika yang menghubungkan keterbatasan duniawi dengan kekuasaan uluhiyah yang tak terbatas.

Landasan fundamental mengenai perintah untuk senantiasa bersandar kepada Sang Khaliq telah ditegaskan secara eksplisit dalam kalam-Nya yang mulia. Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk meminta, tetapi juga menyertakan janji pasti akan pengabulan bagi mereka yang tidak menyombongkan diri dari beribadah kepada-Nya. Hal ini menjadi pengingat bahwa setiap desah doa adalah bentuk ketundukan yang sangat dicintai oleh Allah Azza wa Jalla.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Terjemahan: Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (QS. Ghafir: 60)

Kedekatan Allah kepada hamba-Nya yang berdoa digambarkan dengan sangat puitis dan mendalam dalam Al-Qur'an. Allah menegaskan bahwa Dia sangat dekat dan akan menjawab setiap seruan hamba-Nya tanpa perantara. Namun, kedekatan ini menuntut timbal balik berupa ketaatan dan keimanan yang kokoh agar manusia senantiasa berada dalam bimbingan-Nya yang lurus.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Terjemahan: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang sangat masyhur memberikan gambaran betapa besarnya peluang ijabah di penghujung malam. Keheningan malam bukan sekadar fenomena alam, melainkan undangan ilahi bagi jiwa-jiwa yang haus akan bimbingan dan pertolongan-Nya. Mereka yang mampu menaklukkan kantuk demi bersujud di waktu ini adalah hamba-hamba yang memiliki ketulusan iman yang luar biasa.

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Terjemahan: Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: "Barapa siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan; barang siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri; dan barang siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku ampuni." (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758)

Keajaiban doa terletak pada proses transformatifnya terhadap jiwa sang pendoa. Ia bukan hanya alat untuk mendapatkan keinginan duniawi, melainkan sarana untuk menyucikan hati dari kesombongan diri. Dengan berdoa, kita mengakui bahwa tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah, sebuah kesadaran yang akan melahirkan ketenangan batin dan ketangguhan spiritual dalam menghadapi segala ujian kehidupan.

Sebagai penutup, marilah kita senantiasa menghidupkan hati kita dengan zikir dan permohonan yang tulus. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita hamba-hamba yang gemar mengetuk pintu rahmat-Nya, terutama di waktu-waktu yang telah Dia muliakan. Semoga setiap doa yang kita langitkan menjadi tabungan kebaikan yang akan menaungi kita di dunia maupun di akhirat kelak. Amin Ya Rabbal 'Alamin.