Langit sore itu tak lagi sama sejak kepergian Ayah yang begitu mendadak tanpa pesan. Aku berdiri di ambang pintu, menyadari bahwa masa kecilku telah berakhir tepat saat napas terakhirnya berembus.

Rumah yang biasanya penuh tawa kini terasa sunyi dan mencekam di setiap sudutnya. Aku harus belajar membedakan mana keinginan egois dan mana tanggung jawab besar yang harus dipikul demi Ibu.

Setiap lembar hari yang kulalui terasa seperti bab baru dalam sebuah Novel kehidupan yang tak pernah kupinta penulisannya. Aku dipaksa menelan pahitnya kenyataan tanpa sempat mengeluh sedikit pun pada dunia yang bising.

Pekerjaan paruh waktu di kedai kopi kecil menjadi saksi bisu kelelahanku setiap malam yang panjang. Di sana, aku belajar bahwa harga diri bukan tentang gengsi, melainkan tentang seberapa kuat kita mampu bertahan.

Teman-teman sebayaku sibuk membicarakan pesta dan rencana liburan akhir pekan yang mewah. Sementara itu, aku sibuk menghitung sisa tabungan untuk membayar tagihan listrik yang sudah lama menunggak.

Ada saat-saat di mana aku ingin menyerah dan menangis di pojok kamar yang gelap gulita. Namun, senyum tipis Ibu saat menyambutku pulang selalu menjadi bahan bakar semangat yang tak kunjung padam.

Kedewasaan ternyata bukan tentang angka usia yang terus bertambah secara otomatis setiap waktu. Ia adalah tentang keberanian untuk tetap berdiri tegak meski badai sedang menghantam jantung pertahananmu.

Aku mulai memahami bahwa setiap luka adalah guru yang paling jujur dalam mengajarkan arti ketabahan. Tanpa rasa sakit yang menghujam, mungkin aku masih menjadi anak manja yang tak tahu cara bersyukur.

Kini, aku menatap cermin dan melihat sosok yang jauh lebih kuat dan tenang dari sebelumnya. Mata ini tak lagi mencari perlindungan, melainkan menawarkan perlindungan bagi orang-orang yang paling kucintai.