Langit sore itu tampak begitu kelam, seolah-olah ikut merasakan kehancuran yang sedang merobek rongga dadaku. Aku berdiri di persimpangan jalan, memegang sebuah koper tua yang menyimpan seluruh sisa harapanku yang tersisa.

Kepergian sosok pelindung utama dalam keluarga bukan sekadar kehilangan, melainkan runtuhnya pilar yang selama ini menopang duniaku yang manja. Sejak saat itu, aku dipaksa menelan kenyataan pahit bahwa hidup tidak selalu menyediakan pundak empuk untuk bersandar.

Aku mulai belajar mencuci pakaian sendiri hingga jemari ini mengasar, sebuah kontras yang nyata dari tangan yang dulu hanya tahu cara meminta. Setiap tetes keringat yang jatuh ke bumi menjadi saksi bisu betapa kerasnya perjuangan untuk sekadar bertahan hidup di kota besar.

Dalam setiap lembar novel kehidupan yang sedang kutulis ini, ada bab-bab menyakitkan tentang kegagalan yang berulang kali menghantam egoku. Aku menyadari bahwa menjadi dewasa bukanlah tentang bertambahnya angka usia, melainkan tentang seberapa luas hati menerima kekecewaan.

Suatu malam, aku terduduk di sudut kamar kontrakan yang sempit sambil menatap rembulan yang tertutup awan tipis. Aku teringat betapa dulu aku sering mengeluh tentang hal-hal sepele yang kini terasa sangat tidak berarti lagi.

Rasa sakit ternyata adalah guru terbaik yang pernah kutemui, meski cara mengajarnya sangat tidak ramah dan penuh dengan air mata. Ia mengajariku cara memaafkan diri sendiri dan orang-orang yang pernah memberi luka paling dalam di masa lalu.

Kini, aku tidak lagi berlari mencari perlindungan saat badai datang menerjang dengan ganasnya ke arahku. Aku memilih berdiri tegak, merentangkan tangan, dan membiarkan angin kencang itu menguji seberapa kuat akar yang telah kutanam.

Kedewasaan sejati adalah ketika kita mampu tersenyum tulus di tengah reruntuhan mimpi yang baru saja hancur berkeping-keping. Namun, apakah aku benar-benar sudah cukup kuat untuk menghadapi babak baru yang mungkin jauh lebih menantang dari ini?