Aku selalu berpikir bahwa kedewasaan akan datang perlahan, seperti matahari terbit yang pelan-pelan menghangatkan. Nyatanya, ia datang seperti badai, menghantam saat aku masih sibuk merangkai mimpi-mimpi yang rapuh. Semua bermula ketika Ayah terbaring tak berdaya, dan tiba-tiba saja, beban seluruh toko buku tua keluarga itu mendarat di bahuku.

Toko ‘Pustaka Senja’ adalah warisan yang indah sekaligus jerat utang yang mencekik. Aku yang sebelumnya hanya tahu cara memilih buku fiksi terbaik, kini harus berhadapan dengan angka-angka kaku dan tatapan tajam para penagih yang tak mengenal kata kasihan. Rasa takut itu dingin, mematikan, dan membuatku ingin lari kembali ke kamar tidurku yang aman.

Ada malam-malam panjang di mana aku menangis di balik tumpukan kertas laporan, menyadari betapa naifnya aku selama ini. Dunia yang kukenal ternyata tidak selembut halaman-halaman novel romansa; ia penuh dengan pengkhianatan, birokrasi yang rumit, dan janji-janji palsu dari pemasok yang tiba-tiba menghilang. Aku dipaksa belajar cara menawar, cara menolak, dan yang paling sulit, cara menyembunyikan kerapuhan di balik senyum profesional.

Setiap kesalahan kecil terasa seperti pukulan palu yang menempa jiwaku. Aku kehilangan uang, kehilangan kepercayaan pada beberapa orang, namun secara bersamaan, aku menemukan suara yang selama ini tersembunyi. Suara yang tegas, yang berani mengambil keputusan, meskipun diiringi ketakutan yang luar biasa.

Momen paling transformatif terjadi saat aku berhasil menyelesaikan sengketa besar dengan bank. Saat pena itu menorehkan tanda tangan di atas kertas perjanjian restrukturisasi, aku sadar bahwa aku tidak lagi melihat diriku sebagai ‘anak Ayah’, melainkan sebagai seorang penanggung jawab. Kedewasaan bukanlah hadiah ulang tahun, melainkan harga yang harus dibayar mahal.

Inilah babak paling berat dalam Novel kehidupan-ku, yang ditulis bukan dengan tinta, melainkan dengan keringat dan air mata yang mengering. Setiap babak kegagalan mengajarkan keuletan, dan setiap kemenangan kecil terasa seperti oase di tengah gurun perjuangan yang tak berujung. Aku belajar bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada seberapa keras kita memukul, tetapi seberapa sering kita mampu bangkit setelah jatuh.

Perlahan, toko itu kembali bernapas, dan begitu juga diriku. Aku masih Risa yang suka membaca, tapi kini aku membawa bekas luka yang anggun—sebuah pemahaman mendalam tentang siklus abadi antara kehilangan dan penemuan. Aku tidak lagi takut pada badai, sebab aku tahu, aku adalah nakhoda kapal ini.

Mungkin aku kehilangan masa muda yang riang, tapi aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah fondasi baja yang tak bisa digoyahkan oleh keraguan. Kedewasaan adalah proses menyambut tanggung jawab dengan kedua tangan terbuka, meski tangan itu gemetar.

Kini, setiap kali aku membuka pintu toko di pagi hari, aku melihat refleksi diriku yang baru—seorang wanita yang kuat, berani, dan penuh tekad. Namun, pertanyaan besar masih menggantung: setelah semua perjuangan ini, apakah aku benar-benar siap untuk babak selanjutnya, babak di mana aku harus memilih antara menyelamatkan warisan atau menyelamatkan hatiku sendiri?