PORTAL7.CO.ID - Kehadiran Yamaha PG-1 belakangan ini menjadi topik yang menarik perhatian besar di kalangan pencinta otomotif Tanah Air. Motor bebek ini mengusung desain yang tidak biasa dan kental dengan nuansa petualang, sehingga dianggap memberikan warna baru di pasar kendaraan roda dua.

Meskipun popularitasnya terus meningkat di media sosial, PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) tampak masih menahan diri. Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda resmi bahwa motor bebek petualang tersebut akan segera dipasarkan untuk konsumen domestik.

Saat ini, Yamaha PG-1 sebenarnya sudah tersedia secara resmi di beberapa negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Konsumen di Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Filipina sudah bisa merasakan performa motor yang dirancang untuk berbagai medan jalan tersebut.

Kondisi pasar motor bebek di Indonesia sendiri memang sedang mengalami tren penurunan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Dominasi pasar kini dipegang erat oleh segmen skutik yang mencatatkan kontribusi sebesar 91,7 persen terhadap total permintaan nasional, dilansir dari detikcom.

Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia, segmen motor bebek atau underbone hanya menyumbang sekitar 4,46 persen. Sementara itu, tipe sport berkontribusi sebesar 3,51 persen dan sisanya berasal dari segmen motor listrik yang masih di bawah satu persen.

"PG-1 di market demand moped-nya tinggi. Tinggi itu bisa dibilang 50:50 sama skuter. Itu memang hype. Semua moped di Indonesia itu berapa besar sih? Dari demand secara nasional yang sebesar itu, 3 unit (MX-King, Jupiter Z1, dan Vega Force) yang masih kita punya, kita rasa masih cukup," kata Rifkie.

Bagi produsen otomotif sebesar Yamaha, keputusan untuk meluncurkan model baru melibatkan perhitungan bisnis yang sangat mendalam. Prosesnya tidak sesederhana mendatangkan unit dari luar negeri untuk langsung dipajang di jaringan diler resmi.

Walaupun Yamaha PG-1 memiliki daya tarik visual yang kuat, perusahaan merasa belum ada urgensi mendesak untuk masuk ke segmen tersebut. Investasi besar diperlukan untuk memastikan produk tersebut dapat diterima dengan baik oleh ekosistem pasar di Indonesia.

"Untuk membuka segmen atau pasar baru itu dibutuhkan investasi. Investasi itu bukan hanya: contoh produknya, tapi promosinya, ekosistemnya," ujar Rifkie.