Tanggal 24 Januari 2026 menjadi catatan kelam bagi masyarakat di kawasan Kabupaten Bandung Barat. Bencana longsor besar melanda pemukiman warga saat suasana malam sedang sunyi senyap. Peristiwa mematikan ini menyisakan duka mendalam bagi seluruh penduduk di lereng pegunungan tersebut.

Musibah ini secara spesifik menghantam Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda yang terletak di wilayah Desa Pasirlangu. Material berupa tanah, air, serta bebatuan besar meluncur deras dari ketinggian lereng Gunung Burangrang. Kecepatan longsoran yang sangat tinggi membuat warga tidak memiliki waktu yang cukup untuk menyelamatkan diri.

Sebelum kejadian berlangsung, suhu udara di wilayah Kecamatan Cisarua memang terasa sangat dingin menusuk tulang. Sebagian besar penduduk sudah terlelap di dalam rumah masing-masing tanpa menyadari ancaman yang sedang mengintai. Tanpa ada peringatan atau aba-aba, kondisi alam seketika berubah menjadi ganas dan menghancurkan segalanya.

Kekuatan material longsor tersebut tercatat meluluhlantakkan puluhan bangunan rumah dalam hitungan menit saja. Bangunan-bangunan permanen maupun semi-permanen rata dengan tanah setelah tersapu aliran material dari perbukitan. Ratusan nyawa dilaporkan menjadi korban dalam tragedi yang sangat memprihatinkan bagi publik ini.

Beberapa warga yang berhasil meloloskan diri segera melakukan upaya penyelamatan darurat secara swadaya. Mereka berusaha keras mencari anggota keluarga dan tetangga di tengah kegelapan malam yang mencekam. Suasana kepanikan pecah saat proses evakuasi awal dilakukan dengan peralatan seadanya oleh para penyintas di lokasi.

Sayangnya, upaya penyelamatan tersebut menemui kendala besar karena ketebalan material tanah dan bebatuan yang menimbun pemukiman. Banyak korban yang tidak tertolong karena terjebak di dalam bangunan yang tertutup material longsoran sangat masif. Tumpukan batu besar mempersulit akses bagi warga yang mencoba memberikan pertolongan pertama.

Kini, Desa Pasirlangu diselimuti kesedihan mendalam akibat kehilangan ratusan warga tercintanya dalam sekejap. Pihak berwenang diharapkan segera melakukan penanganan intensif untuk mengevakuasi seluruh korban yang masih tertimbun. Tragedi di kaki Gunung Burangrang ini akan terus dikenang sebagai salah satu bencana alam paling mematikan.