Langit sore itu tampak kelabu, seolah mencerminkan kegelisahan yang merayap di dadaku. Aku berdiri di depan pintu rumah lama, membawa koper yang berisi seluruh sisa keberanianku untuk melangkah keluar dari zona nyaman.
Keputusanku untuk pergi bukan karena benci, melainkan karena kebutuhan untuk menemukan jati diri yang sempat hilang. Dunia di luar sana terasa begitu luas dan menakutkan bagi seseorang yang terbiasa dilindungi oleh hangatnya pelukan keluarga.
Bulan-bulan awal terasa seperti medan perang, di mana aku harus berhadapan dengan kegagalan dan penolakan berkali-kali. Setiap air mata yang jatuh menjadi tinta yang menuliskan bab-bab sulit dalam novel kehidupan yang sedang kurajut dengan penuh peluh.
Suatu malam, saat persediaan makanan menipis dan semangat hampir padam, aku tersadar bahwa kedewasaan bukan sekadar angka pada kartu identitas. Ia adalah tentang bagaimana kita memilih untuk bangkit kembali setelah dihantam badai yang seolah tak kunjung usai.
Aku mulai belajar menghargai setiap receh yang kudapat dan setiap bantuan kecil dari orang asing yang kutemui di persimpangan jalan. Keangkuhanku perlahan luruh, berganti dengan rasa syukur yang mendalam atas setiap napas dan kesempatan yang masih tersisa.
Teman-teman lama mungkin tak akan lagi mengenali sosokku yang sekarang, bukan karena wajah yang berubah, tapi karena sorot mata yang kini lebih tenang. Aku bukan lagi remaja yang menuntut dunia berputar sesuai keinginannya, melainkan seorang pengembara yang belajar menari dengan indah di bawah guyuran hujan.
Pada akhirnya, luka-luka masa lalu ini tidak benar-benar hilang, namun mereka telah mengeras menjadi perisai yang membuatku jauh lebih kuat. Namun, saat aku menatap cakrawala yang baru, sebuah pertanyaan besar tetap membayang: apakah aku benar-benar sudah siap menghadapi babak selanjutnya yang jauh lebih menantang?