Deru hujan di balik jendela kaca seolah memanggil kembali memori tentang masa muda yang penuh dengan kepolosan. Aku pernah berpikir bahwa dunia akan selalu berpihak pada setiap mimpi yang kutuliskan di atas kertas putih.
Meninggalkan kenyamanan rumah di pinggiran kota adalah keputusan tersulit yang pernah kuambil demi mengejar sebuah ambisi. Tas punggung tua ini menjadi saksi bisu betapa ringkihnya pundakku saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah perantauan.
Kota besar menyambutku dengan kebisingan yang mencekik dan tatapan-tatapan asing yang tidak menyisakan ruang untuk rasa iba. Di sini, aku belajar bahwa air mata seringkali harus diseka sendiri sebelum sempat jatuh ke lantai yang dingin.