PORTAL7.CO.ID - Klub sepak bola PSV Eindhoven secara resmi mengeluarkan permohonan maaf menyusul insiden kontroversial yang terjadi selama perayaan keberhasilan mereka meraih gelar juara Liga Belanda. Insiden tersebut melibatkan pemain Ryan Flamingo, yang menyanyikan sebuah lagu dengan lirik yang memicu kecaman luas.
Peristiwa ini terjadi di Stadhuisplein, lokasi di mana ribuan penggemar berkumpul untuk merayakan kemenangan tim. Flamingo, yang saat itu berada di atas panggung, diketahui menyanyikan lirik yang berbunyi "Siapa yang tidak melompat adalah seorang Yahudi," sebuah ucapan yang dianggap sangat tidak pantas.
Pihak klub dengan tegas menyatakan bahwa tindakan sang pemain merupakan sebuah kekeliruan besar yang sama sekali tidak dapat diterima dalam lingkungan klub. Ryan Flamingo sendiri dilaporkan telah menyampaikan permohonan maaf secara internal kepada manajemen PSV tak lama setelah insiden tersebut.
Seorang juru bicara klub memberikan pernyataan tegas mengenai standar perilaku yang diharapkan dari para pemain mereka di hadapan publik. "Kami tidak ingin suporter kami menyanyikan lagu-lagu semacam ini di stadion, dan pemain juga tidak boleh melakukannya," ujar juru bicara tersebut kepada Omroep Brabant, menekankan peran pemain sebagai figur teladan.
Insiden ini terjadi ketika Flamingo, bek berusia 23 tahun, sempat berulang kali menyerukan lirik kontroversial tersebut sebelum akhirnya ditarik dari mikrofon. Situasi kemudian segera dialihkan dengan musik dari DJ La Fuente untuk meredam suasana yang memanas.
Permintaan maaf resmi dari PSV disampaikan sehari setelah perayaan akbar tersebut dilaksanakan, meskipun klub menegaskan bahwa tidak ada niat antisemit yang mendasari tindakan Flamingo. Mereka mengakui bahwa perilaku tersebut jelas tidak pantas dan seharusnya tidak pernah terjadi.
Dilansir dari sportgeschiedenis.nl, insiden ini turut membuka kembali pembahasan mengenai sejarah Yahudi yang erat kaitannya dengan PSV. Klub ini dikenal sebagai "klub rakyat" yang didirikan oleh perusahaan Philips, yang secara historis merekrut pekerja dari berbagai latar belakang agama.
Berbeda dengan banyak klub lain di wilayah Brabant yang didominasi oleh komunitas Katolik, PSV sejak awal memiliki kebijakan yang lebih terbuka bagi semua kalangan. Kritik diarahkan pada pemikiran Flamingo yang secara keliru mengasosiasikan orang Yahudi hanya dengan satu kelompok tertentu.
Penelitian yang dilakukan oleh Joris Kaper menyoroti tragedi kemanusiaan dengan menemukan lebih dari seribu nama pemain sepak bola Yahudi yang menjadi korban kekejaman Holocaust di Belanda. PSV sebagai bagian dari komunitas tersebut juga mengalami kehilangan anggota berdarah Yahudi selama Perang Dunia II.