PORTAL7.CO.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali bulan Maret 2026 dengan rapor merah akibat eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu kepanikan investor yang berujung pada aksi jual di lantai bursa. Tekanan hebat ini membuat indeks domestik kehilangan tenaga secara signifikan pada penutupan sesi pertama perdagangan.

Berdasarkan laporan Mirae Asset Sekuritas, IHSG tercatat melemah 1,6 persen hingga terperosok ke level 8.104 pada Senin (2/3/2026). Hampir seluruh sektor saham mengalami koreksi tajam, terutama pada emiten-emiten dengan nilai kapitalisasi pasar yang besar. Penurunan ini mencerminkan tingginya kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi global yang mulai terganggu.

Saham PT Astra International Tbk. (ASII) menjadi salah satu beban terberat indeks setelah anjlok sedalam 4,5 persen. Pelemahan ini juga diikuti oleh PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang terkoreksi 3,3 persen di tengah gejolak pasar. Sektor perbankan pun tak luput dari tekanan, di mana saham BMRI turun 2,8 persen dan BBRI menyusut 1,8 persen.

Di tengah kepanikan pasar, saham-saham berbasis logam justru tampil sebagai penyelamat dan bergerak melawan arus. PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) melesat 4,82 persen, disusul oleh lonjakan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) sebesar 4,12 persen. Selain itu, PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) juga menguat 3,60 persen seiring meningkatnya minat terhadap aset aman.

Secara sektoral, indeks saham siklikal dan infrastruktur menjadi kelompok yang mengalami hantaman paling keras pada perdagangan kali ini. Namun, sektor energi masih mampu bertahan di zona hijau karena ekspektasi lonjakan harga minyak mentah dunia akibat perang. Kondisi serupa juga terjadi di bursa utama Asia yang mayoritas memerah mengikuti sentimen negatif global tersebut.

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, meminta para investor untuk tidak panik dalam menghadapi situasi ini. Ia menekankan agar pelaku pasar tetap mengedepankan rasionalitas dan analisis fundamental dalam setiap pengambilan keputusan investasi. Jeffrey menilai ketenangan sangat dibutuhkan untuk menavigasi portofolio di tengah eskalasi geopolitik yang tidak menentu. "Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental," ujar Jeffrey. Pernyataan ini menjadi pengingat bagi publik bahwa gejolak pasar akibat tensi global bersifat dinamis namun fundamental perusahaan tetap menjadi kunci. Investor disarankan untuk terus memantau perkembangan berita internasional yang dapat memengaruhi pergerakan indeks.

Sumber: Infonasional

https://www.infonasional.com/ihsg-terkoreksi-akibat-konflik-02-maret-2026