PORTAL7.CO.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data perdagangan internasional Indonesia untuk periode pembuka tahun 2026. Meskipun mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 3,39 persen secara tahunan, angka ini dianggap kurang memuaskan bagi pasar. Total nilai pengiriman barang ke luar negeri pada Januari tersebut secara resmi menyentuh angka US$22,16 miliar.

Realisasi pertumbuhan ini ternyata meleset jauh dari proyeksi awal yang disusun oleh sejumlah pengamat ekonomi dunia. Konsensus Bloomberg sebelumnya memperkirakan bahwa ekspor Tanah Air mampu melesat hingga 11,9 persen secara tahunan. Capaian ini memang lebih baik dari bulan sebelumnya yang hanya 0,3 persen, namun tetap berada di bawah harapan para ahli.

Ketimpangan performa terlihat jelas pada sektor migas yang justru mengalami kontraksi cukup dalam pada awal tahun ini. Ateng Hartono selaku Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS menyebutkan ekspor migas anjlok 15,62 persen menjadi US$890 juta. Di sisi lain, sektor non-migas masih menunjukkan taringnya dengan kenaikan 4,38 persen dengan nilai US$21,26 miliar.

Dalam keterangannya, Ateng Hartono menjelaskan bahwa komoditas lemak dan minyak nabati menjadi motor utama pertumbuhan ekspor kali ini. Sektor ini mencatatkan lonjakan signifikan mencapai 46,5 persen dan memberikan andil sebesar 4,61 persen terhadap total ekspor nasional. Pernyataan tersebut disampaikan secara resmi dalam Konferensi Pers Neraca Dagang pada Senin, 2 Maret 2026.

Selain minyak nabati, komoditas nikel dan produk turunannya juga mencatatkan performa yang sangat impresif bagi devisa negara. Sektor ini tumbuh sebesar 42,04 persen dengan andil mencapai 1,43 persen terhadap total peningkatan ekspor secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan ketergantungan Indonesia pada hilirisasi komoditas tambang masih menjadi tumpuan utama ekonomi.

Sektor manufaktur melalui mesin dan perlengkapan elektronik beserta bagiannya turut memberikan angin segar di tengah kelesuan global. Kelompok komoditas ini berhasil mencatat kenaikan sebesar 16,27 persen dengan andil sekitar 1 persen bagi neraca perdagangan. Diversifikasi produk ekspor ini diharapkan mampu menambal penurunan yang terjadi di sektor energi fosil yang sedang lesu.

Secara keseluruhan, meskipun angka pertumbuhan ekspor Januari 2026 masih berada di zona hijau, tantangan besar tetap membayangi pemerintah. Otoritas terkait perlu mewaspadai selisih lebar antara realisasi lapangan dengan proyeksi optimis para ekonom internasional. Data ini menjadi alarm penting bagi arah kebijakan perdagangan luar negeri Indonesia untuk sisa tahun ini.

Sumber: Infonasional

https://www.infonasional.com/ekspor-indonesia-januari-2026-naik