Aku selalu berpikir bahwa usia adalah penentu kedewasaan; selama ini, aku hidup dalam gelembung kenyamanan yang diciptakan oleh orang-orang di sekitarku. Aku yakin aku sudah matang, siap menghadapi dunia, padahal sesungguhnya, aku hanya seorang pengecut yang pandai bersembunyi di balik titel dan janji manis. Ilusi itu terasa nyata, seolah aku telah menguasai peta kehidupan.
Namun, peta itu robek ketika proyek ambisius yang kujalankan—yang seharusnya menjadi bukti kemandirianku—hancur berantakan di tengah jalan. Kerugiannya tidak hanya finansial, tetapi juga moral; aku telah mengecewakan banyak pihak yang percaya pada kata-kataku yang terlalu percaya diri. Rasa dingin kegagalan itu merayapi tulangku, jauh lebih menyakitkan daripada yang kubayangkan.
Di tengah puing-puing keruntuhan itu, mentor yang selama ini menjadi jaring pengamanku tiba-tiba memilih mundur, meninggalkanku sendirian untuk menanggung beban konsekuensi. Malam-malam itu terasa sunyi dan panjang, hanya ditemani oleh suara detak jam yang seolah menghitung mundur sisa-sisa harga diri yang kumiliki. Aku menyadari, betapa rapuhnya fondasi yang kubangun selama ini.
Aku menghabiskan berminggu-minggu dalam kegelapan, menyalahkan takdir, menyalahkan orang lain, dan terutama menyalahkan diriku sendiri atas kebodohan yang tak termaafkan. Rasa malu itu membakar, tetapi di titik terendah itulah aku mulai melihat pantulan diriku yang sesungguhnya—seorang anak yang dipaksa tumbuh dalam semalam.
Saat itulah aku sadar, setiap kesalahan adalah babak penting dalam proses yang disebut Novel kehidupan; tidak ada jalan pintas menuju kedewasaan sejati. Aku harus berhenti mencari penyelamat dan mulai mengambil palu untuk membangun kembali, batu demi batu, dari fondasi yang benar-benar baru. Tanggung jawab adalah kata kunci yang selama ini aku hindari.
Aku mulai membereskan kekacauan itu dengan tangan sendiri, menghadapi setiap panggilan telepon yang menuntut, dan mengakui setiap kegagalan tanpa mencari kambing hitam. Aku belajar mengelola emosi, mengendalikan kepanikan, dan menerima bahwa rasa sakit adalah bagian integral dari pertumbuhan. Proses ini terasa lambat dan melelahkan, tetapi setiap langkah kecil adalah kemenangan.
Kedewasaan yang sesungguhnya ternyata bukanlah tentang mencapai usia tertentu, melainkan tentang kemampuan berdiri tegak setelah terjatuh, tanpa perlu uluran tangan siapa pun. Bekas luka yang tertinggal dari kegagalan itu kini menjadi penunjuk arah, sebuah pengingat abadi tentang harga sebuah pelajaran.
Kini, aku tidak lagi takut pada kegagalan, sebab aku tahu, aku telah melalui badai terburuk dan berhasil keluar sebagai versi diriku yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih tenang. Apakah aku sudah sepenuhnya dewasa? Mungkin belum, tetapi setidaknya, aku sudah siap menulis babak berikutnya dengan pena yang kupegang sendiri, tanpa bergantung pada plot yang dibuat orang lain.