Aku selalu percaya bahwa dunia bergerak berdasarkan niat baik. Dengan keyakinan naif itu, aku memulai proyek impianku—sebuah rumah kreatif untuk anak-anak jalanan—menginvestasikan seluruh tabungan dan harapan masa mudaku di dalamnya. Senyum anak-anak itu adalah bahan bakar yang membuatku yakin bahwa idealisme bisa mengalahkan segala pragmatisme.
Aku bekerja tanpa lelah, tidur hanya beberapa jam, meyakini bahwa setiap orang yang berjanji membantuku memiliki visi yang sama murni. Ketika seorang investor besar datang menawarkan dukungan penuh, aku melihatnya sebagai jawaban doa, bukan sebagai potensi jebakan yang mematikan. Aku terlalu cepat percaya pada kemasan yang berkilauan.
Pukulan itu datang secepat kilat, merobohkan segala yang kubangun. Investor itu ternyata hanya memanfaatkan namaku dan jaringan yang kubangun, menarik diri setelah semua dana awal lenyap, meninggalkan utang dan kekacauan administrasi. Rumah kreatif yang baru berdiri itu kini hanya menyisakan dinding yang dingin dan keheningan yang menyayat hati.
Aku ingat duduk di lantai yang dingin selama berhari-hari, dikepung oleh rasa malu dan kegagalan yang tak tertahankan. Air mata yang tumpah bukan hanya karena kehilangan materi, tetapi karena hilangnya keyakinan pada kebaikan universal yang selama ini kupegang teguh. Aku merasa bodoh, naif, dan terlalu muda untuk menanggung beban seberat ini.
Momen terendah itu adalah titik balik. Aku menyadari bahwa kedewasaan bukanlah tentang seberapa besar mimpi yang kita miliki, melainkan seberapa kuat kita berdiri setelah mimpi itu dihancurkan. Kedewasaan menuntut kehati-hatian, kemampuan untuk melihat nuansa abu-abu di antara hitam dan putih, dan keberanian untuk mengakui bahwa aku telah salah.
Perlahan, aku mulai merangkai kembali puing-puing itu. Aku menjual aset yang tersisa, menghadapi kreditor satu per satu, dan belajar keras tentang kontrak, hukum, dan batasan pribadi. Proses pahit ini adalah babak paling esensial dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis, sebuah babak yang mengajarkan bahwa kepercayaan harus didapatkan, bukan diberikan secara cuma-cuma.
Aku tidak lagi menjadi Risa yang idealis buta; aku menjadi Risa yang realistis namun tetap memiliki harapan. Luka itu tidak hilang, ia hanya berubah menjadi garis peta yang menunjukkan di mana aku pernah jatuh, dan bagaimana aku menemukan jalan untuk bangkit. Kini, aku tahu nilai sebenarnya dari ketahanan dan discernment—kemampuan untuk membedakan.
Meskipun rumah kreatif itu belum sepenuhnya kembali seperti dulu, fondasinya kini jauh lebih kuat, dibangun di atas pengalaman pahit. Kegagalan besar itu adalah kurikulum termahal yang pernah kuambil, dan ironisnya, ia adalah hadiah terbesar yang membuatku akhirnya mengerti arti sebenarnya dari menjadi dewasa. Maukah kau melanjutkan membaca bab selanjutnya dari kisah pendewasaanku ini?