Dinding-dinding kaca kantor ini terasa seperti penjara, memantulkan kembali wajahku yang pucat karena insomnia berkepanjangan. Sudah tiga minggu aku hidup di bawah bayang-bayang rahasia yang menggerogoti, sebuah kesalahan desain yang kukerjakan dengan tergesa-gesa dan dibumbui sedikit arogansi muda. Beban itu jauh lebih berat daripada tumpukan cetak biru di mejaku.

Aku ingat betul malam itu, ketika aku menolak saran teknisi senior karena merasa gagasanku lebih brilian dan efisien. Kecepatan menjadi prioritasku, bukan ketelitian, dan kini, perhitungan struktural minor yang terlewat itu berpotensi menyebabkan penundaan besar dan kerugian finansial yang tak terbayangkan bagi klien.

Rasa takut telah menjadi teman setiaku, dingin dan menusuk, membisikkan skenario terburuk tentang karier yang hancur sebelum sempat mekar. Setiap kali ponsel berdering atau atasan memanggil, jantungku seolah berhenti berdetak, menunggu palu godam itu menghantam. Aku menghabiskan malam-malamku mencari cara menambal lubang itu tanpa terdeteksi, tetapi semakin kucoba, semakin besar lubang itu menganga.

Puncaknya terjadi saat rapat evaluasi mingguan; Pak Surya, kepala proyek, menunjuk langsung pada bagian yang bermasalah, meskipun ia belum menyadari kedalaman kesalahanku. Keringat dingin membasahi punggungku, dan seluruh ruangan berputar, seolah gravitasi telah meninggalkanku. Aku tahu, waktu untuk berpura-pura sudah habis.

Saat itu, di tengah keheningan yang mencekam, sebuah keberanian asing merayap masuk, menggantikan rasa takut yang melumpuhkan. Aku memutuskan untuk berdiri, bukan untuk membela diri, melainkan untuk mengakui seluruhnya, tanpa pemanis atau pembelaan. Rasa sakit karena mengakui kegagalan terasa menyakitkan, tetapi anehnya, juga membebaskan. "Ini adalah kesalahan saya sepenuhnya," suaraku bergetar, tetapi tegas. Aku menjelaskan setiap detail, setiap langkah keliru yang kuambil, dan konsekuensi logis dari kecerobohanku. Pak Surya hanya menatapku lama, tatapan yang lebih mengevaluasi daripada menghakimi, dan keheningan itu terasa seperti hukuman yang tak terperi.

Konsekuensinya memang pahit: aku dicopot dari proyek utama dan harus menghabiskan bulan-bulan berikutnya memperbaiki kerusakan, bekerja lembur tanpa kompensasi, dan menghadapi tatapan skeptis dari rekan kerja. Namun, di tengah semua kesulitan itu, aku belajar tentang akuntabilitas, sebuah pelajaran yang tidak pernah diajarkan di bangku kuliah.

Kesalahan besar itu bukan akhir dari segalanya, melainkan awal. Ia adalah titik balik yang mengubah orientasi hidupku dari mengejar validasi menjadi mengejar integritas. Bagian yang menyakitkan ini adalah babak paling krusial dan otentik dalam keseluruhan Novel kehidupan yang sedang aku tulis.

Aku kini menyadari bahwa kedewasaan sejati bukanlah tentang seberapa sukses kita menghindari kegagalan, melainkan seberapa gigih kita berdiri tegak di tengah reruntuhan yang kita ciptakan sendiri. Pertanyaannya sekarang, setelah semua badai ini berlalu, apakah aku benar-benar siap untuk menghadapi ujian berikutnya yang jauh lebih besar?