Dulu, aku percaya bahwa kedewasaan adalah tentang seberapa tinggi aku bisa terbang, seberapa jauh aku bisa meninggalkan bayangan masa lalu. Aku memeluk Jakarta dengan ambisi yang membakar, membangun mimpi di atas fondasi yang ternyata rapuh, mengira kecepatan dan gemerlap adalah definisi dari kesuksesan yang matang. Namun, ketika mimpi itu runtuh, hancur berkeping-keping dalam satu malam yang dingin, aku menyadari betapa naifnya definisi kedewasaanku selama ini.
Aku kembali ke kampung halaman, membawa tas ransel berisi sisa-sisa keangkuhan dan rasa malu yang tak terhingga. Desa yang dulu ingin kutinggalkan kini menjadi satu-satunya pelabuhan. Setiap tatapan tetangga terasa seperti jarum yang menusuk, mengingatkanku pada kegagalan besar yang baru saja kualami.
Di kamar masa kecilku yang berdebu, aku menghabiskan hari-hari dalam keheningan yang menyiksa. Rasa getir kegagalan itu meracuni setiap nafasku, membuatku mempertanyakan semua keputusan yang pernah kubuat. Aku marah pada dunia, pada keadaan, dan yang paling parah, aku marah pada diriku sendiri karena tidak mampu memenuhi standar sempurna yang kubangun.
Titik balik itu datang bukan dari nasihat bijak, melainkan dari pekerjaan sederhana. Ibu memintaku membantu membersihkan kebun belakang yang sudah lama terbengkalai. Saat tanganku bersentuhan dengan tanah basah, mencabut rumput liar yang menjerat akar tanaman, aku merasakan koneksi yang hilang.
Aku mulai melihat bahwa pertumbuhan yang sesungguhnya terjadi secara perlahan, di tempat yang sunyi, jauh dari sorotan lampu kota. Kedewasaan bukanlah tentang menghindari kegagalan, melainkan tentang menerima bekas luka dan menjadikannya peta menuju kebijaksanaan. Aku belajar bahwa terkadang, kita harus kehilangan segalanya untuk menemukan diri kita yang sebenarnya.
Kegagalan yang kualami di ibu kota adalah babak terpenting dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis. Tanpa kejatuhan itu, aku tidak akan pernah tahu bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan untuk bangkit kembali, bahkan ketika tidak ada yang melihat atau mendukung. Ini adalah kisah tentang bagaimana aku berhenti mengejar validasi eksternal dan mulai mendengarkan suara jiwaku.
Aku memutuskan untuk tidak lari lagi. Aku mulai membangun kembali, tetapi kali ini bukan bisnis yang ambisius, melainkan sebuah perpustakaan kecil di balai desa, menyalurkan energi yang dulu kucurahkan pada uang, kini kucurahkan pada harapan anak-anak. Kepuasan yang kurasakan jauh lebih dalam dan abadi.
Kedewasaan sejati ternyata adalah kesanggupan untuk mencintai versi dirimu yang gagal, versi dirimu yang kotor oleh tanah dan keringat. Ini adalah penerimaan pahit bahwa proses menjadi manusia dewasa selalu melibatkan rasa sakit, sama seperti biji yang harus membusuk terlebih dahulu sebelum bisa tumbuh menjadi pohon.
Matahari terbenam di balik bukit, mewarnai langit dengan warna jingga dan ungu. Aku berdiri di teras, tidak lagi merasa malu. Kegagalan telah memberiku hadiah terindah: pemahaman bahwa hidupku adalah sebuah mahakarya yang belum selesai, dan aku, sang penulis, baru saja menemukan pena terbaikku.
