Kuliner kaki lima adalah tulang punggung identitas gastronomi Indonesia, menyajikan cita rasa unik yang sarat akan sejarah dan kearifan lokal. Namun, tekanan modernisasi dan tuntutan efisiensi produksi kini mengancam keaslian resep-resep warisan yang telah dipertahankan turun-temurun tersebut.

Salah satu fakta utama yang dihadapi adalah hilangnya penggunaan bahan baku lokal spesifik yang dulunya wajib ada, kini digantikan oleh bahan impor atau komersial yang lebih murah. Perubahan signifikan dalam komposisi bahan ini secara langsung memengaruhi profil rasa, aroma, dan tekstur akhir dari hidangan tradisional yang kita kenal.

Latar belakang utama masalah pelestarian ini adalah peralihan generasi, di mana banyak penerus usaha kaki lima kurang tertarik mempelajari teknik memasak yang rumit dan memakan waktu lama. Akibatnya, proses dan resep yang diturunkan tidak lagi mengikuti pakem asli yang telah dipegang teguh oleh para pendahulu mereka.