Dulu, dunia bagiku hanyalah hamparan kanvas penuh warna cerah; idealisme membumbung tinggi, dan rencana masa depan sudah tersusun rapi hingga ke detail terkecil. Aku hidup dalam gelembung nyaman yang diisi oleh buku-buku tebal, impian beasiswa luar negeri, dan keyakinan naif bahwa semua masalah dapat diselesaikan dengan logika murni. Kedewasaan terasa seperti janji yang terlalu jauh, sebuah pakaian kebesaran yang belum perlu kucoba.
Namun, badai datang tanpa permisi, bukan dalam bentuk hujan deras, melainkan lewat panggilan telepon yang sunyi dari Ayah. Bisnis bengkel keluarga yang telah berdiri tegak puluhan tahun tiba-tiba limbung dihantam krisis, meninggalkan tumpukan tagihan yang menggunung dan wajah-wajah pekerja yang penuh ketidakpastian. Seketika, peta duniaku tercabik; beasiswa yang sudah di depan mata terasa hampa dibandingkan tanggung jawab yang mendesak di rumah.
Malam-malam itu, aku bergumul dengan ego dan rasa keadilan yang terluka. Mengapa aku, yang dipersiapkan untuk dunia akademis, harus menyelam ke lumpur administrasi dan negosiasi yang keras? Aku marah pada takdir, pada kenyataan bahwa hidup tidak selalu menawarkan pilihan yang indah, melainkan seringkali menyodorkan kompromi yang menyakitkan.
Keputusan itu akhirnya kubuat: melepaskan impian ke luar negeri untuk sementara, dan mengambil alih kendali keuangan bengkel. Ini adalah transisi yang brutal; dari membaca filsafat Plato, aku beralih mempelajari laporan laba rugi, berhadapan dengan bank, dan menahan air mata saat harus merumahkan beberapa pekerja lama. Aku harus belajar berbicara dengan suara yang tegas, bukan lagi suara manja seorang mahasiswi.
Setiap hari adalah pelajaran baru tentang kerentanan manusia dan kerasnya bertahan hidup. Aku menyadari bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan kemampuan untuk bertindak meski lutut bergetar. Perlahan, aku mulai menemukan ritme baru, menghargai setiap penghematan kecil dan setiap senyum tulus dari para pegawai yang masih bertahan.
Di tengah kelelahan mental yang tak terperi, aku menyadari bahwa inilah skenario paling otentik dan paling jujur yang pernah kualami. Ini adalah babak paling penting dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis, di mana setiap kegagalan dan keberhasilan kecil membentuk karakternya sendiri. Aku bukan lagi Risa yang idealis, melainkan Risa yang pragmatis, yang memahami bahwa empati dan ketekunan jauh lebih penting daripada nilai sempurna di atas kertas.
Aku mulai melihat Ayah dan Ibu dengan pandangan yang berbeda, memahami beban yang mereka pikul selama ini di balik senyum lelah mereka. Rasa hormatku pada mereka tumbuh tak terhingga, menyadari bahwa mengelola sebuah kehidupan jauh lebih rumit daripada mengelola sebuah teori. Aku belajar bahwa kedewasaan adalah tentang memahami batasan diri, lalu mendorong batas itu hingga batas yang baru.
Perlahan, badai mereda. Bengkel mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, bukan karena keajaiban, melainkan karena keringat dan air mata yang tumpah di sana. Aku mungkin kehilangan momentum akademisku, namun aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: fondasi diri yang kokoh, ditempa oleh api tanggung jawab.
Kini, aku berdiri di ambang pintu, siap melangkah lagi, tapi dengan langkah yang lebih mantap dan pandangan yang lebih luas. Pengalaman ini mengajarkanku bahwa hidup tidak hanya tentang mencapai tujuan yang kita tetapkan, tetapi tentang siapa kita jadinya saat berusaha melewatinya. Jika kesempatan kedua untuk beasiswa itu datang, apakah aku masih akan menjadi orang yang sama yang meninggalkannya?
