Dulu, kedewasaan bagiku hanyalah angka di kartu identitas, janji yang masih jauh di ujung cakrawala. Aku hidup dalam gelembung kenyamanan, menganggap masalah terbesar hanyalah memilih antara kopi atau teh di pagi hari. Namun, semesta punya rencana yang lebih dramatis, sebuah skenario yang merenggut semua kemudahan itu dalam sekejap mata.

Segalanya runtuh ketika Ayah terbaring lemah, dan tiba-tiba, beban perusahaan konstruksi yang sedang goyah jatuh tepat di pangkuanku. Kantor yang dulu kuanggap sebagai tempat membosankan Ayah bekerja, kini menjadi medan pertempuran pribadiku melawan tumpukan utang dan karyawan yang menuntut kepastian. Aku baru lulus kuliah, dan kini harus berhadapan dengan bankir berwajah dingin dan ancaman kebangkrutan.

Malam-malamku berubah menjadi lembaran-lembaran laporan keuangan yang tak kupahami, ditemani aroma kopi pahit dan rasa cemas yang menusuk. Ada saatnya aku hanya ingin lari, kembali ke masa di mana aku bisa menangis tanpa harus memikirkan nasib puluhan keluarga yang bergantung pada keputusanku. Keputusasaan itu terasa begitu nyata, memelukku erat hingga aku sulit bernapas.

Namun, di tengah titik terendah itu, sebuah suara pelan berbisik: menyerah bukanlah pilihan yang Ayah ajarkan. Aku mulai memaksa diriku belajar, merangkak dari nol, menelan ludah pahit saat para senior meragukan kemampuanku hanya karena aku seorang gadis muda. Aku menggali kekuatan yang tidak pernah kukira kumiliki, menukar gaun pesta dengan sepatu lapangan dan helm proyek.

Aku belajar bahwa dunia bisnis adalah rimba yang kejam, penuh janji palsu dan pengkhianatan yang datang dari orang-orang terdekat. Beberapa mitra yang Ayah percayai justru mencoba memanfaatkan kelemahanku, mengira aku akan mudah diintimidasi. Setiap kegagalan kecil terasa seperti pukulan palu yang menghancurkan kepercayaan diri, tetapi anehnya, justru rasa sakit itu yang mengasah mental.

Perlahan, aku mulai melihat benang merah dari semua kesulitan ini. Aku menyadari bahwa ini adalah babak paling esensial dari Novel kehidupan yang sedang kutulis, di mana karakter utama dipaksa untuk bertransformasi. Pengalaman adalah guru yang tak pernah memberi nilai A atau B, ia hanya memberikan pelajaran berharga yang membentuk tulang punggung.

Aku mulai memimpin dengan ketegasan yang didapat dari rasa takut yang berhasil kukuasai, dan dengan empati yang lahir dari pemahaman akan kesulitan orang lain. Perusahaan itu memang belum sepenuhnya pulih, tetapi fondasinya kini berdiri di atas tekad yang lebih kuat, bukan lagi hanya warisan nama besar.

Ketika akhirnya Ayah tersenyum bangga saat melihatku mempresentasikan rencana restrukturisasi—senyum yang tak lagi dipenuhi kekhawatiran—aku tahu harga kedewasaan telah terbayar lunas. Aku kehilangan masa muda yang riang, tetapi aku mendapatkan diri yang jauh lebih utuh dan kuat.

Jika kau bertanya apakah aku menyesali jalan yang kupilih, jawabannya adalah tidak. Sebab, di balik setiap air mata dan keringat, aku menemukan bahwa kedewasaan bukan tentang berapa banyak yang kau miliki, melainkan seberapa besar kau mampu menanggung dan mengubah beban menjadi sayap. Kini, tantangan baru menanti di depan, dan aku siap menghadapinya, namun, bagaimana jika Ayah memutuskan untuk menyerahkan seluruh kendali dan pergi mencari kedamaian yang lama hilang?