Aku berdiri di ambang jendela, menatap kota yang selalu kurindukan, tempat di mana impian-impian besar terasa begitu nyata dan dapat digapai. Selembar surat penerimaan beasiswa yang kini terlipat rapi di saku jaketku terasa seperti jembatan yang terputus; ia menunjukkan jalan keluar, namun ada rantai tak terlihat yang menahan langkahku di tempat ini. Pilihan antara mengejar kebebasan diri atau memikul beban keluarga terasa seperti mempertaruhkan seluruh jiwaku.

Selama bertahun-tahun, aku hanya melihat masa depanku dalam bingkai yang jelas: menjadi seorang arsitek yang merancang bangunan ikonik di belahan dunia lain. Aku telah menghabiskan malam-malamku dengan sketsa dan model, menolak tawaran pekerjaan lokal demi persiapan yang lebih besar. Kepercayaan diri itu kini runtuh, digantikan oleh keraguan yang berat.

Segalanya berubah ketika Ayah jatuh sakit, dan bisnis kerajinan kayu yang dibangunnya dengan keringat selama tiga puluh tahun mulai goyah. Pilihan untuk meninggalkannya terasa egois, sementara keputusan untuk tinggal berarti mengubur ambisi yang telah kurawat sejak remaja. Aku harus memilih antara peta jalan yang sudah kususun rapi, atau kompas yang menunjuk pada kewajiban tak terduga.