PORTAL7.CO.ID - Pasar kendaraan listrik (EV) di Indonesia menampilkan daya tahan yang luar biasa, bahkan ketika pemerintah mulai menyesuaikan skema insentif fiskal yang sebelumnya diterapkan. Dinamika industri kini bergerak melampaui subsidi, fokus pada inovasi produk dan penguatan rantai pasok domestik.

Langkah pemerintah dalam merasionalisasi insentif seperti pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebelumnya telah berhasil memicu masuknya pemain global. Merek-merek besar seperti BYD, AION, VinFast, dan XPENG kini turut meramaikan persaingan di pasar otomotif nasional.

Hendra Wardana, Analis dan Founder Republik Investor, menyoroti bahwa daya saing harga mobil listrik di Indonesia masih terjaga dengan baik meskipun ada perubahan kebijakan. Menurut pandangannya, produsen kini berupaya lebih agresif meluncurkan model-model yang lebih terjangkau untuk menjangkau segmen konsumen yang lebih luas.

"Faktor seperti biaya energi yang lebih murah, pajak yang lebih rendah, perawatan yang lebih sederhana, serta potensi penghematan operasional menjadi faktor yang membuat kendaraan listrik tetap memiliki prospek pertumbuhan," ujar Hendra pada Senin 9 Maret 2026.

Data menunjukkan akselerasi adopsi teknologi ini sangat cepat, dengan pertumbuhan pasar yang mencapai 49 persen pada November 2025. Angka ini mengindikasikan bahwa Indonesia masih berada pada fase awal ekspansi, menyisakan ruang pertumbuhan yang sangat signifikan ke depan.

Pakar otomotif dari ITB, Yannes Martinus Pasaribu, menjelaskan bahwa transformasi industri terjadi dari pola yang bergantung pada stimulus fiskal menuju kompetisi pasar yang sesungguhnya. Ia mencatat bahwa pangsa pasar EV berhasil menembus 12,9 persen atau setara dengan 103,9 ribu unit kendaraan yang terjual sepanjang tahun 2025.

"Produsen yang telah membangun fasilitas manufaktur di dalam negeri mendapat keuntungan strategis dari aturan tersebut," ujar Yannes Martinus Pasaribu, merujuk pada regulasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen yang mulai mengubah lanskap persaingan.

Langkah konkret mulai terlihat, misalnya dengan XPENG yang sudah memulai proses perakitan secara Completely Knocked Down (CKD) di Purwakarta, Jawa Barat. Perakitan lokal ini diproyeksikan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi strategis di luar Tiongkok.

Integrasi industri hulu ke hilir semakin diperkuat dengan dioperasikannya pabrik sel baterai milik HLI Green Power di Karawang. Fasilitas dengan kapasitas 10 GWh ini sangat krusial untuk memastikan realisasi TKDN yang lebih terukur dan tidak hanya sebatas perakitan tingkat dasar.