PORTAL7.CO.ID - Memasuki fase pertengahan Ramadan 2026, kondisi harga kebutuhan pokok di Kabupaten Tasikmalaya terpantau mengalami tren kenaikan yang sangat signifikan. Berbagai jenis komoditas sayuran hingga daging di pasar tradisional mulai dibanderol dengan harga tinggi oleh para pedagang. Fenomena ini memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat karena lonjakan harga tersebut tercatat mencapai lebih dari dua kali lipat dari harga normal biasanya.

Di Pasar Tradisional Singaparna, harga cabai domba yang semula berkisar Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu kini telah menyentuh angka Rp 70 ribu per kilogram. Selain cabai, kenaikan drastis juga terlihat pada harga waluh atau labu siam kecil yang melompat dari Rp 3 ribu menjadi Rp 12 ribu per kilogram. Komoditas kol turut mengalami penyesuaian harga dari Rp 5 ribu menjadi Rp 10 ribu, menunjukkan tekanan inflasi pangan yang cukup kuat.

Tini, salah satu pedagang di pasar tersebut, mengungkapkan rasa keluh kesahnya terhadap kondisi pasar yang serba naik saat ini. Ia menyoroti harga jamur yang peningkatannya paling tajam, yakni mencapai Rp 32 ribu dari harga awal Ramadan yang hanya Rp 14 ribu per kilogram. "Nararaek ayunamah. Sayuran oge naek pisan (Pada naik sekarang mah. Sayuran juga naik banget)," ujar Tini saat diwawancarai pada Senin (2/3/2026).

Guna mengantisipasi daya beli masyarakat yang menurun, para pedagang terpaksa memutar otak agar stok dagangan mereka tetap habis terjual. Salah satu strategi yang diterapkan adalah dengan mengemas aneka sayuran ke dalam plastik porsi kecil berukuran satu ons atau seperempat kilogram. Cara ini dianggap efektif untuk membantu konsumen yang ingin berbelanja namun memiliki keterbatasan anggaran di tengah mahalnya harga pangan.

Sektor protein hewani tidak luput dari gejolak harga, di mana daging ayam kini dipasarkan seharga Rp 40 ribu per kilogram dari harga sebelumnya Rp 32 ribu. Rahmat, seorang pedagang ayam, memprediksi bahwa harga tersebut masih berpotensi merangkak naik hingga Rp 45 ribu dalam beberapa waktu ke depan. Ia mengaku situasi ini cukup menyulitkan karena jumlah pembeli cenderung menurun akibat harga yang semakin tidak terjangkau.

Keluhan senada juga disampaikan oleh Engkos, salah satu konsumen yang merasa sangat terbebani dengan kondisi ekonomi di pasar tradisional saat ini. Ia berharap pemerintah atau pihak terkait dapat segera menstabilkan harga agar kebutuhan rumah tangga selama bulan suci tetap terpenuhi. Menurutnya, kenaikan harga yang terus terjadi setiap hari membuat pengeluaran harian menjadi tidak terkendali dan sangat memberatkan kantong pembeli.

Faktor tingginya permintaan pasar yang tidak dibarengi dengan pasokan barang yang mencukupi diduga menjadi pemicu utama melambungnya harga komoditas pangan ini. Mengingat hari raya Idulfitri yang semakin dekat, harga diprediksi akan terus mengalami kenaikan hingga mencapai puncaknya pada akhir bulan suci. "Kayaknya makin dekat Lebaran makin tinggi harga-harga teh," tutup Engkos mengakhiri pembicaraan mengenai situasi pasar terkini.

Sumber: Infonasional

https://www.infonasional.com/harga-sayuran-daging-tasikmalaya-melonjak