Di bawah langit senja yang memerah, aku menyadari bahwa waktu tidak pernah menunggu siapa pun untuk siap. Dulu, kupikir menjadi dewasa hanyalah soal angka, namun kini aku mengerti itu adalah tentang seberapa kuat kita mendekap luka.

Kehilangan yang datang tiba-tiba meruntuhkan seluruh dinding pertahanan yang selama ini kubangun dengan susah payah. Rumah yang dulunya penuh tawa kini hanya menyisakan sunyi yang mencekam di setiap sudut ruangnya.

Aku terpaksa menelan pil pahit kenyataan bahwa dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena hatiku sedang patah. Setiap langkah yang kuambil terasa berat, seolah gravitasi bumi sedang menguji ketahananku untuk tetap berdiri tegak.

Dalam kesendirian, aku mulai merangkai kembali kepingan diri yang sempat hancur berserakan di lantai masa lalu. Lembar demi lembar perjalanan ini terasa seperti sebuah novel kehidupan yang penuh dengan plot twist tak terduga.

Aku belajar bahwa memaafkan keadaan adalah kunci utama untuk melepaskan beban yang selama ini menghimpit dada. Tidak ada gunanya menyalahkan takdir jika kita sendiri enggan melangkah keluar dari zona nyaman yang semu.

Perlahan, aku mulai menata kembali prioritas dan membuang ego yang selama ini hanya menjadi penghalang bagi pertumbuhan jiwaku. Kini, setiap tetes air mata yang jatuh bukan lagi simbol kelemahan, melainkan pupuk bagi kedewasaan yang baru bersemi.

Cahaya mulai merayap masuk melalui celah-celah kecil di jendela hati, memberikan harapan baru yang lebih terang dari sebelumnya. Aku menyadari bahwa badai tidak datang untuk menghancurkan, melainkan untuk membersihkan jalan menuju jati diri yang sesungguhnya.

Ternyata, kedewasaan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari keberanian untuk menghadapi ketidakpastian dengan senyuman. Namun, apakah aku benar-benar sudah siap ketika badai yang lebih besar datang mengetuk pintu rumahku suatu saat nanti?