PORTAL7.CO.ID - Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mencapai titik panas setelah serangkaian serangan pada Sabtu (28/2/2026), yang berujung pada respons tegas Iran berupa penutupan total jalur pelayaran Selat Hormuz. Keputusan dramatis ini sontak memicu kegelisahan global mengenai potensi gangguan serius pada rantai pasok energi dunia. Langkah Garda Revolusi Iran tersebut diambil atas dasar pertimbangan keamanan, namun implikasinya langsung terasa pada pasar komoditas energi internasional.
Selat Hormuz merupakan arteri krusial perdagangan minyak dan gas dunia, menghubungkan Teluk Persia dengan perairan internasional melalui celah sempit antara Iran dan Oman. Jalur maritim sepanjang 990 kilometer ini bertanggung jawab atas distribusi lebih dari seperlima total ekspor minyak dan gas alam cair global. Sejumlah negara produsen utama seperti Iran, Irak, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab sangat bergantung pada rute ini untuk mengirimkan komoditas mereka ke pasar Asia.
Meskipun sebagian besar minyak yang dialirkan tersebut ditujukan untuk pasar Asia—termasuk raksasa seperti China, Jepang, dan Korea Selatan—fluktuasi volume di Hormuz berdampak luas pada harga global. Hal ini disebabkan oleh inelastisitas permintaan produk minyak bumi yang membuat harga sangat sensitif terhadap perubahan pasokan. Bagi Indonesia, yang juga mengandalkan jalur ini selain Selat Malaka, ancaman gangguan sangat nyata terasa.
Dampak paling cepat yang dikhawatirkan adalah lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan gas di dalam negeri, yang berpotensi memicu kenaikan biaya energi secara keseluruhan. Kenaikan ini kemudian akan merambat ke sektor vital lainnya, seperti transportasi dan produksi industri yang sangat bergantung pada energi fosil. Imbasnya, masyarakat diprediksi akan merasakan tekanan inflasi yang meningkat tajam serta penurunan daya beli.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan kepastian sementara mengenai stok nasional. Ia menyatakan bahwa cadangan minyak Indonesia saat ini masih mencukupi untuk kebutuhan domestik selama 20 hari ke depan. "Masih cukup, 20 hari. Sampai hari ini nggak ada masalah, tapi kan harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik yang terus memanas di Timteng," ujar Bahlil pada Selasa (3/3/2026).
Pemerintah memastikan bahwa sejauh ini belum ada dampak langsung yang terlihat pada sektor energi subsidi di dalam negeri akibat penutupan tersebut. Namun, antisipasi tetap menjadi prioritas utama dalam menghadapi dinamika geopolitik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah. Langkah-langkah mitigasi dan respons kebijakan selanjutnya akan segera dibahas dalam forum Rapat Dewan Energi Nasional.
Oleh karena itu, situasi di Selat Hormuz menjadi indikator penting yang harus terus dipantau ketat oleh otoritas energi Indonesia. Ketahanan energi nasional di masa depan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam mengelola dampak eksternal ini melalui diversifikasi sumber pasokan dan kebijakan harga yang adaptif.
Sumber: Infonasional