PORTAL7.CO.ID - Logam mulia memulai sesi perdagangan Rabu (4/3/2026) dengan kenaikan signifikan, membalikkan tren penurunan tajam yang sempat terjadi pada hari sebelumnya. Data dari Bloomberg menunjukkan peningkatan sebesar 0,95% atau setara 48,11 poin, menempatkan harga emas di level US$5.136,94 per troy ounce pada pukul 07.47 WIB. Sementara itu, kontrak emas berjangka bulan April 2026 di Comex AS juga menunjukkan pemulihan, menguat 0,17% atau 8,6 poin menjadi US$5.133,7 per troy ounce.

Rebound ini terjadi setelah harga sempat tertekan hebat pada hari Selasa (3/3), bahkan jatuh mendekati batas psikologis US$5.100. Kenaikan hari ini merupakan hasil dari aktivitas pembelian yang muncul setelah rangkaian reli selama empat hari berturut-turut sebelumnya terhenti. Selain itu, pasar juga merespons ekspektasi pelonggaran moneter yang mulai berkurang karena adanya ancaman inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi global.

Kondisi pasar yang volatil terlihat dari tekanan jual yang terjadi di bursa saham dunia, memaksa sebagian pelaku pasar untuk melikuidasi aset mereka. Likuidasi ini dilakukan untuk menutupi kewajiban margin (margin call) yang timbul di sektor investasi lainnya. Fenomena ini menunjukkan adanya penyesuaian risiko portofolio secara umum di kalangan investor besar saat ini.

Peter Kinsella, Kepala analis valas global dari Union Bancaire Privee, mengamati bahwa pergerakan pasar emas saat ini mencerminkan proses standar pengurangan risiko dalam sebuah portofolio investasi. Ia menambahkan, "Pola ini konsisten dengan konflik-konflik sebelumnya, dan posisi long emas di pasar berjangka yang relatif moderat membatasi potensi koreksi lebih dalam," seperti dikutip Bloomberg, Rabu (4/3/2026).

Secara historis, harga emas telah menunjukkan kinerja luar biasa sepanjang tahun berjalan, melompat hampir 20% dan sempat menyentuh rekor tertinggi di atas US$5.595 pada penghujung Januari. Lonjakan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik yang berkelanjutan, perselisihan dagang internasional, serta kekhawatiran investor mengenai independensi kebijakan bank sentral Amerika Serikat.

Ketegangan semakin memanas akibat meluasnya konflik antara AS dan Israel dengan Iran, di mana Israel dilaporkan melancarkan serangan ke Teheran, menghantam sebuah gedung di Qom yang diklaim sebagai lokasi pertemuan ulama. Kinsella menyatakan keyakinannya akan pemulihan harga emas lebih lanjut, "Saya yakin kita akan melihat pemulihan harga emas. Hasil perang yang tidak pasti justru memperbesar risiko geopolitik dalam jangka panjang."

Namun, kenaikan harga emas harus berhadapan dengan tantangan inflasi yang bersumber dari lonjakan harga komoditas energi. Inflasi tinggi dapat memaksa bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, atau bahkan menaikkannya, yang secara historis selalu menjadi penghambat bagi logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil (yield). Untuk meredam krisis energi, Presiden AS Donald Trump berjanji akan menyediakan pengawalan laut dan jaminan asuransi untuk menjamin kelancaran suplai energi.

Sumber: Infonasional

https://www.infonasional.com/harga-emas-menguat-04-maret-2026