PORTAL7.CO.ID - Performa perdagangan internasional Indonesia mengawali tahun 2026 dengan catatan yang cukup impresif. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya tren positif pada nilai ekspor nasional yang berhasil melampaui capaian tahun sebelumnya. Lonjakan ini memberikan sinyal optimis bagi stabilitas ekonomi domestik di tengah dinamika pasar global yang fluktuatif.
Berdasarkan data terbaru, total nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai angka US$22,16 miliar. Perolehan tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 3,39 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025. Sektor non-migas menjadi kontributor utama yang mendorong pertumbuhan signifikan dalam neraca perdagangan tersebut melalui komoditas unggulan.
Dominasi pasar ekspor non-migas Indonesia masih terkonsentrasi pada tiga mitra dagang raksasa, yakni China, Amerika Serikat, dan India. Gabungan kontribusi dari ketiga negara tersebut mencapai 43,77 persen dari total keseluruhan ekspor non-migas nasional. Pola ini menunjukkan ketergantungan strategis Indonesia terhadap kekuatan ekonomi besar di kawasan Asia dan Amerika Utara.
Tiongkok tetap kokoh sebagai tujuan ekspor terbesar dengan nilai transaksi menyentuh US$5,27 miliar pada awal tahun ini. Komoditas besi dan baja menjadi primadona dengan pangsa pasar mencapai 25,08 persen secara tahunan. Selain itu, produk turunan baja juga memberikan sumbangsih penting dengan porsi sebesar 10,08 persen bagi pasar Negeri Tirai Bambu tersebut.
Di sisi lain, ekspor non-migas menuju Amerika Serikat mencatatkan performa gemilang dengan nilai mencapai US$2,51 miliar. Sektor mesin dan perlengkapan elektronik menjadi tulang punggung utama dengan penguasaan pasar sebesar 18,51 persen. Menariknya, kategori produk teknologi ini mengalami pertumbuhan sangat pesat hingga 33,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
India menempati posisi ketiga sebagai negara tujuan utama dengan nilai ekspor sebesar US$1,52 miliar. Komoditas bahan bakar mineral masih mendominasi pengiriman ke Negeri Anak Benua tersebut dengan pangsa pasar mencapai 29,07 persen. Namun, terdapat catatan khusus karena sektor ini justru mengalami kontraksi atau penurunan sebesar 7,84 persen secara tahunan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan rincian data ini melalui kanal resmi lembaga tersebut secara transparan. Peningkatan ekspor pada komoditas tertentu diharapkan terus berlanjut guna memperkuat cadangan devisa negara sepanjang tahun. Pemerintah kini perlu menjaga momentum pertumbuhan ini agar target ekonomi nasional dapat tercapai secara maksimal.
Sumber: Infonasional