Masyarakat modern sering dihadapkan pada dilema besar antara mengejar ambisi profesional yang tinggi dan mempertahankan kualitas hubungan personal yang sehat. Tekanan untuk mencapai puncak karier kerap kali menuntut pengorbanan waktu dan energi yang signifikan, yang berpotensi mengikis fondasi kemitraan.
Data menunjukkan bahwa ketidakseimbangan kerja-hidup menjadi salah satu penyebab utama peningkatan angka stres dan perpisahan dalam rumah tangga. Ketika komunikasi berkurang dan waktu berkualitas hilang, hubungan mulai terasa seperti kewajiban tambahan, bukan lagi sumber dukungan emosional.
Latar belakang masalah ini diperburuk oleh budaya kerja "selalu terhubung" yang memungkinkan pekerjaan menginvasi ruang pribadi kapan saja melalui gawai digital. Kurangnya penetapan batasan yang jelas antara kantor dan rumah menjadi faktor kunci yang menyebabkan kelelahan emosional pada pasangan.