PORTAL7.CO.ID - Dunia Islam saat ini sedang berada dalam fase transformasi diplomatik yang sangat krusial, di mana kekuatan tidak lagi diukur hanya dari aspek militer, melainkan melalui kedalaman empati dan aksi nyata kemanusiaan. Fenomena ini menunjukkan bahwa Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sebuah sistem nilai yang mendorong pemeluknya untuk menjadi pelopor dalam mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan universal. Diplomasi yang dijalankan oleh negara-negara Muslim saat ini adalah refleksi dari kesadaran teologis bahwa setiap kebijakan luar negeri harus memiliki ruh keberpihakan terhadap nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.
Prinsip utama yang melandasi pergerakan ini adalah konsep *Ukhuwah Islamiyah* yang melampaui batas-batas geografis dan sekat nasionalisme. Persaudaraan dalam Islam bukanlah sekadar slogan, melainkan ikatan iman yang mewajibkan setiap Muslim untuk peduli terhadap nasib saudaranya di belahan bumi lain. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT yang menegaskan kedudukan setiap mukmin dalam tatanan sosial keagamaan:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Terjemahan: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaiakanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10)
Eksistensi diplomasi kemanusiaan ini didasari oleh filosofi tubuh yang satu, di mana rasa sakit yang dialami oleh satu bagian akan dirasakan oleh seluruh bagian lainnya. Indonesia, bersama Arab Saudi, Qatar, dan Turki, telah membuktikan komitmen ini dengan menjadi garda terdepan dalam penyaluran bantuan logistik dan medis. Rasulullah SAW menggambarkan solidaritas umat Islam ini melalui sebuah hadits yang sangat mendalam maknanya:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Terjemahan: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan menyantuni di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan sakitnya dengan tidak bisa tidur dan merasa demam." (HR. Muslim)
Lebih jauh lagi, diplomasi ini merupakan sarana dakwah *bil-hal* (dakwah dengan perbuatan) yang menunjukkan wajah Islam yang *Rahmatan lil 'Alamin*. Ketika bantuan diberikan tanpa memandang latar belakang politik semata, dunia melihat bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi martabat kemanusiaan. Nilai-nilai keadilan yang diperjuangkan oleh para diplomat Muslim di panggung global berakar pada perintah Allah SWT untuk senantiasa berlaku adil dan menjadi saksi yang jujur bagi kebenaran.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ma'idah: 8)
Sebagai umat terbaik, kita dipanggil untuk terus berlomba-lomba dalam kebaikan dan memastikan bahwa keberadaan kita memberikan manfaat seluas-luasnya bagi alam semesta. Setiap bantuan yang dikirimkan, setiap negosiasi yang dilakukan demi perdamaian, dan setiap doa yang dipanjatkan adalah bagian dari ibadah sosial yang agung. Allah SWT memberikan motivasi kepada hamba-Nya untuk senantiasa bergerak dinamis dalam menebar kebajikan melalui firman-Nya:
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Terjemahan: "Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 148)