JAKARTA - Nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.400 per dolar AS memicu gelombang kekhawatiran di ruang publik.
Di media sosial, muncul berbagai narasi yang menuding pemerintah dan Bank Indonesia sengaja membiarkan rupiah melemah demi kepentingan tertentu, mulai dari dorongan ekspor hingga keuntungan pihak yang menyimpan dolar AS.
Narasi tersebut berkembang cepat di tengah sensitivitas publik terhadap pergerakan kurs.
Apalagi, pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan kebijakan pembatasan pembelian dolar AS tanpa underlying transaction menjadi maksimal US$25.000 per bulan.
Namun jika dilihat lebih dalam, tekanan terhadap rupiah saat ini justru lebih mencerminkan dinamika global yang sedang tidak ramah bagi mayoritas negara berkembang, bukan sekadar persoalan domestik Indonesia.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto terkait perkembangan Rupiah saat ini. Menurutnya, ada dua alasan yang membuat Rupiah mengalami undervalue di tengah kondisi perekonomian yang tumbuh.
"Tadi dibahas dan mendapatkan arahan mengenai nilai tukar, bahwa yang pertama nilai tukar sekarang itu undervalue. Undervalue dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat," kata Perry usai rapat bersama dengan Presiden Prabowo di Istana Negara, Jakarta, Selasa (5/5/2026), malam.
Perry mengatakan pertumbuhan ekonomi 5,61% di kuartal I - 2026, inflasi dalam kondisi rendah, cadangan devisa kuat, dan kredit yang tumbuh tinggi, seharusnya menjadi dasar untuk menunjukkan Rupiah akan stabil dan menguat.
Namun, diakui bahwa dalam jangka pendek ini ada tekanan terhadap nilai tukar hingga saat ini menembus ke level Rp 17.400 per US$.