Langit sore itu tampak lebih kelabu dari biasanya, seolah mencerminkan kekacauan yang sedang berkecamuk di dalam dadaku. Aku berdiri di persimpangan jalan, menyadari bahwa ego yang selama ini kupuja mulai runtuh perlahan.
Kegagalan besar yang baru saja kualami bukanlah sekadar angka yang hilang, melainkan tamparan keras bagi kesombonganku. Aku mulai belajar bahwa hidup tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, melainkan apa yang kita butuhkan untuk tumbuh.
Dalam kesunyian kamar, aku membolak-balik lembaran hari yang terasa seperti bab-bab dalam sebuah Novel kehidupan. Setiap air mata yang jatuh menjadi tinta yang menuliskan kekuatan baru di atas rapuhnya mentalku saat ini.