Aku selalu membayangkan kedewasaan sebagai pintu gerbang yang dilewati pada usia tertentu, sebuah perayaan formal yang diikuti dengan kebebasan tanpa batas. Kenyataannya jauh lebih sunyi, lebih berdebu, dan terasa seperti beban yang diletakkan tiba-tiba di bahu saat aku sama sekali belum siap. Pintu gerbang itu ternyata adalah gerbang belakang sebuah studio seni tua milik Ayah, tempat di mana bau cat minyak dan pelarut menjadi aroma kemerdekaan palsuku.
Semua berubah saat Ayah mendadak harus mundur, menyerahkan kunci studio dan tumpukan surat tagihan yang tebal. Studio ‘Cahaya Senja’ yang selama ini hanya kuanggap sebagai tempat bermain dan melarikan diri, kini menjadi tanggung jawab penuh yang menuntut perhitungan dan keputusan sulit. Aku, si bungsu yang paling dimanja, harus menjadi nahkoda kapal yang sedang karam.
Malam-malam awal terasa seperti mimpi buruk yang dingin. Aku menghabiskan waktu di antara kanvas-kanvas kosong, mencoba memahami laporan keuangan yang lebih rumit daripada kode rahasia. Rasa takut akan kegagalan begitu mencekik, membuatku ingin berlari kembali ke masa ketika masalah terbesarku hanyalah memilih warna cat yang tepat.
Aku ingat jelas saat itu, duduk di lantai dingin, air mata menetes membasahi sketsa lama Ayah. Itu bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebingungan dan kemarahan pada diri sendiri karena begitu lama menutup mata terhadap realitas. Aku menyadari bahwa kenyamanan yang kutinggali selama ini dibangun di atas keringat dan pengorbanan orang lain.
Perlahan, aku mulai merangkul kekacauan itu. Aku menjual beberapa lukisan pertamaku yang terasa canggung, menghadapi penolakan dari klien lama, dan belajar tawar-menawar dengan pemasok yang sinis. Setiap keputusan kecil terasa seperti pertaruhan besar, namun setiap keberhasilan kecil, sekecil penjualan satu kuas, memberikan suntikan keberanian yang tak ternilai.
Tidak ada mentor yang sempurna, hanya ada trial and error yang menyakitkan. Aku harus belajar memisahkan emosi dari logika bisnis, sebuah pelajaran yang sangat sulit bagi seorang seniman. Namun, melalui proses yang keras ini, aku mulai melihat diriku bukan lagi sebagai Risa yang manja, melainkan Risa yang mampu bertahan.
Inilah babak paling mendalam dalam Novel kehidupan-ku; babak yang tidak ditulis dengan tinta romantis, melainkan dengan noda cat yang keras kepala dan jejak kopi dingin. Aku menyadari bahwa kedewasaan bukanlah hadiah yang diberikan waktu, melainkan hasil dari keberanian untuk mengambil alih kemudi saat badai menerpa.
Orang-orang di sekitar mulai melihat perubahan itu. Mereka tidak lagi melihatku sebagai ‘anaknya Ayah’, melainkan sebagai Risa, pemilik Studio Cahaya Senja yang baru. Tatapan mereka yang penuh hormat terasa lebih berat daripada beban keuangan mana pun, karena itu berarti aku harus terus membuktikan diri.
Studio itu kini masih berdebu, namun debunya adalah debu perjuangan yang manis. Aku memang belum berhasil membawa studio ini kembali ke masa kejayaannya, namun aku telah berhasil menemukan Risa yang selama ini bersembunyi. Pertanyaannya sekarang, setelah semua kesulitan ini, apakah aku memiliki kekuatan untuk menghadapi rahasia terbesar Ayah yang tersimpan di balik brankas tua itu?
