PORTAL7.CO.ID - Peradaban manusia kini berada pada titik balik yang sangat krusial, di mana mimbar-mimbar kayu yang statis mulai tergantikan oleh pendar layar gawai yang dinamis. Transformasi digital ini bukan sekadar pergeseran media, melainkan sebuah revolusi cara manusia memahami Tuhan dan menjalankan syariat-Nya. Bagi Generasi Z, agama tidak lagi ditemukan hanya dalam kitab-kitab tebal di perpustakaan, melainkan dalam potongan video pendek berdurasi enam puluh detik yang melintas cepat di algoritma media sosial mereka. Fenomena ini menuntut kita untuk lebih mawas diri agar esensi spiritualitas tidak tergerus oleh kecepatan arus informasi.

Namun, kemudahan akses ini membawa tantangan besar terkait keabsahan informasi yang diterima oleh umat di ruang siber. Islam sangat menekankan prinsip kehati-hatian dalam menerima setiap berita agar tidak terjadi fitnah atau kesalahpahaman yang merugikan banyak pihak. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan panduan universal mengenai pentingnya verifikasi atau *tabayyun* dalam firman-Nya yang sangat tegas. Hal ini menjadi fondasi utama bagi setiap Muslim agar tidak mudah terombang-ambing oleh narasi yang belum jelas sumbernya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6)

Ketidaktahuan yang dipadukan dengan kecepatan penyebaran informasi digital dapat menjadi kombinasi yang sangat berbahaya bagi akidah seorang Muslim. Al-Qur'an mengingatkan setiap mukmin untuk tidak mengikuti sesuatu tanpa landasan ilmu yang jelas, karena setiap indra yang kita miliki akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Hal ini menjadi pengingat keras bagi para pengguna media sosial agar tidak sembarangan menyebarkan konten atau mengikuti tren keagamaan yang belum tentu benar sanad keilmuannya. Kedalaman ilmu harus selalu diutamakan di atas sekadar popularitas visual.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Terjemahan: "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra: 36)

Menavigasi arus algoritma membutuhkan kecerdasan spiritual dan intelektual yang tinggi agar kita tidak tersesat dalam rimba informasi yang menyesatkan. Penting bagi kita untuk kembali menghidupkan tradisi bertanya kepada para ahli ilmu yang memiliki integritas dan rekam jejak pendidikan yang jelas. Ilmu agama bukanlah sesuatu yang bisa diperoleh secara otodidak sepenuhnya melalui mesin pencari tanpa bimbingan guru yang kompeten. Guru berfungsi sebagai penunjuk jalan dan penjaga gawang agar kita tidak salah dalam menafsirkan nash-nash suci sesuai hawa nafsu.

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۖ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Terjemahan: "Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang-orang pria yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Anbiya: 7)

Kita harus senantiasa waspada terhadap masa di mana ilmu agama akan dicabut bukan dengan cara menghilangkannya dari hati manusia, melainkan dengan wafatnya para ulama yang mumpuni. Jika para ulama telah tiada dan orang-orang mengangkat pemimpin yang jahil sebagai rujukan, maka fatwa-fatwa yang menyesatkan akan merajalela di tengah masyarakat. Rasulullah SAW telah memperingatkan hal ini dalam sebuah hadits yang sangat mendalam agar kita selalu menghargai keberadaan orang-orang berilmu di sekitar kita.

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا، يَنْتَ

Sumber: Muslimchannel

https://muslimchannel.id/post/menavigasi-arus-algoritma-menjaga-kedalaman-makna-dakwah-di-era-gen-z