Jakarta - Kecelakaan maut yang menewaskan seorang pejalan kaki di Pondok Labu, Jakarta Selatan, Kamis (12/2/2026), kembali menorehkan duka bagi layanan transportasi publik Transjakarta. Namun di balik tragedi kemanusiaan ini, sorotan publik juga mengarah pada problem tata kelola perusahaan yang kian menonjol.
Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai insiden tersebut seharusnya menjadi momentum refleksi menyeluruh. Ironisnya, di saat subsidi dari APBD DKI Jakarta terus meningkat, laba PT Transportasi Jakarta justru menyusut tajam.
Data menunjukkan, laba komprehensif perusahaan pada 2024 hanya Rp197 miliar, turun dari Rp342 miliar pada 2022. Padahal subsidi melonjak dari Rp2,7 triliun (2021) menjadi Rp3,6 triliun (2024). “Subsidi tinggi, laba minimal—ini sinyal yang tidak bisa diabaikan,” ujar Uchok, Senin (16/2/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut bukan sekadar soal efisiensi bisnis, melainkan menyangkut akuntabilitas penggunaan uang rakyat. Ia pun mendesak Kejaksaan Agung membuka penyelidikan atas kinerja keuangan Transjakarta, demi memastikan tidak ada penyimpangan sekaligus mendorong perbaikan tata kelola.
Tragedi di jalan raya dan angka-angka di laporan keuangan kini bertemu dalam satu titik: tuntutan transparansi dan tanggung jawab. Publik tidak hanya menagih keselamatan, tetapi juga integritas pengelolaan dana. Tanpa pembenahan menyeluruh, kepercayaan terhadap transportasi publik ibu kota akan terus terkikis.*