Aku ingat betul malam ketika semua ambisi yang kubangun runtuh. Bukan karena gempa bumi atau bencana alam, melainkan karena kesombongan yang membuatku mengambil risiko terlampau besar. Keheningan apartemen mewahku terasa begitu memekakkan, seolah dinding-dinding itu ikut menghakimi setiap keputusan bodoh yang telah kuambil.
Selama ini, aku mendefinisikan kedewasaan sebagai pencapaian finansial dan status sosial. Ketika semua itu hilang dalam sekejap, aku merasa kembali menjadi nol, bahkan minus. Rasa malu adalah beban terberat; aku tidak hanya kehilangan harta, tetapi juga wajah di mata orang-orang yang selama ini kukagumi.
Aku memutuskan untuk menjauh, meninggalkan hiruk pikuk kota yang terasa terlalu ramai untuk menampung kegagalanku. Aku pindah ke sebuah rumah kecil peninggalan kakek di pinggiran, tempat yang hanya dihiasi aroma tanah basah dan suara jangkrik. Di sana, aku mulai belajar kembali cara bernapas tanpa harus membuktikan apa pun kepada siapa pun.
Ternyata, kesunyian adalah guru terbaik. Ia memaksa aku untuk berhadapan langsung dengan diriku yang paling rentan. Aku mulai mengisi hari-hari dengan pekerjaan sederhana, membantu warga desa memperbaiki saluran air atau mengajar anak-anak membaca di balai desa tua.
Di balai desa itulah aku bertemu Nisa, seorang gadis kecil yang kehilangan kedua orang tuanya dan harus menanggung beban mengurus adiknya. Melihat ketabahannya menghadapi kesulitan hidup yang jauh lebih berat dariku, aku tersadar bahwa cerita kita semua adalah bagian dari satu kesatuan utuh yang disebut Novel kehidupan. Babak yang kupikir adalah akhir, ternyata hanyalah transisi menuju genre yang berbeda.
Pengalamanku membantu Nisa membuka mata bahwa kedewasaan sejati bukan terletak pada seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa besar kita bisa memberi dan menjadi sandaran bagi orang lain. Kegagalanku yang pahit telah memberiku empati yang tak pernah kurasakan saat aku berada di puncak kejayaan.
Perlahan, puing-puing masa lalu mulai terlihat seperti fondasi yang lebih kuat. Aku belajar bahwa jatuh bukanlah akhir, melainkan undangan untuk merangkai kembali diri dengan material yang lebih jujur dan tahan banting. Proses itu menyakitkan, lambat, namun membebaskan.
Kini, aku tidak lagi takut pada kegagalan. Aku tahu, setiap luka adalah tinta yang memperkaya alur cerita. Jika besok aku harus kehilangan segalanya lagi, setidaknya aku tahu bagaimana cara berdiri tegak, bukan karena kekayaan, melainkan karena aku telah menemukan inti dari diriku yang sejati.