Aku selalu membayangkan kedewasaan sebagai pintu gerbang emas yang kumasuki setelah meraih gelar sarjana dan beasiswa ke luar negeri. Hidupku terencana rapi, penuh janji manis dan tawa riang bersama teman-teman yang sama-sama percaya bahwa masa depan adalah kanvas yang hanya perlu diwarnai. Kenyataannya, kedewasaan datang bukan sebagai hadiah, melainkan sebagai palu godam yang menghancurkan semua peta yang telah kubuat.

Peristiwa itu terjadi begitu cepat, seperti badai yang menyapu pantai di musim kemarau. Ayah harus beristirahat total, dan tiba-tiba, beban mengelola toko buku kecil keluarga yang sedang goyah jatuh sepenuhnya ke pundakku. Aku, yang selama ini hanya tahu cara menganalisis puisi dan merangkai kata, kini harus berhadapan dengan laba rugi, utang piutang, dan tatapan penuh harap dari wajah-wajah yang bergantung padaku.

Malam-malam pertama terasa seperti neraka. Aku merindukan buku-buku tebal yang dulu menjadi selimutku, dan benci pada angka-angka di layar komputer yang terasa dingin dan menuntut. Kepergian mimpiku untuk melanjutkan studi terasa seperti amputasi, meninggalkan rasa sakit yang perih dan kekosongan yang menganga.

Aku sering bertanya pada cermin, "Siapa wanita yang berdiri di sana ini?" Wajahku tampak lebih tua, mataku menyimpan lingkaran gelap yang bukan lagi sisa begadang karena membaca novel, melainkan karena menghitung biaya operasional. Ada saat-saat di mana aku ingin melarikan diri, kembali menjadi Risa yang hanya peduli pada esai dan kopi hangat.

Titik baliknya datang ketika seorang pelanggan lama, seorang nenek yang selalu membeli buku resep, menatapku dengan mata penuh syukur. Ia berkata, “Kamu sangat mirip ayahmu, Nak. Tegar.” Saat itu, aku menyadari bahwa aku tidak hanya menyelamatkan toko, tetapi juga menjaga warisan dan martabat keluarga.

Di tengah kelelahan itu, aku menemukan sebuah kekuatan yang tak pernah kuketahui ada di dalam diriku. Aku mulai melihat perjuangan ini sebagai bagian tak terpisahkan dari diriku, sebuah babak penting dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis sendiri. Setiap kesalahan yang kubuat, setiap kegagalan kecil dalam negosiasi, menjadi pelajaran yang lebih berharga daripada semua teori yang pernah kubaca di bangku kuliah.

Aku belajar bahwa mengelola emosi jauh lebih sulit daripada mengelola keuangan. Aku belajar memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas keinginanku sendiri, dan dalam pengorbanan itu, anehnya, aku merasa lebih utuh. Kedewasaan bukanlah tentang kebebasan tanpa batas, melainkan tentang kemampuan untuk memilih beban mana yang layak kau pikul.

Toko itu akhirnya stabil, meski jalannya masih berliku. Aku tidak lagi membenci bekas luka yang kutinggalkan di masa lalu; sebaliknya, bekas luka itu kini menjadi kompas yang menuntunku. Mereka mengingatkanku bahwa aku selamat dari badai, dan bahwa aku mampu berdiri tegak bahkan ketika fondasi hidupku diguncang.

Aku mungkin tidak mendapatkan gelar dari universitas impianku, tetapi aku mendapatkan gelar yang jauh lebih berharga: gelar sebagai manusia yang bertanggung jawab dan dewasa. Namun, pertanyaan yang kini menghantuiku adalah: setelah semua pengorbanan ini, apakah ada ruang tersisa bagi Risa yang dulu, Risa yang hanya ingin menulis dan berpetualang tanpa beban?