Aku selalu mengira kedewasaan akan datang perlahan, seperti air yang mengisi wadah. Namun, bagi sebagian orang, kedewasaan datang seperti badai, menghantam saat kita paling rapuh dan memaksa kita untuk segera berdiri tegak. Bagiku, badai itu bernama Toko Buku Senja, warisan mendiang Ayah yang ternyata lebih banyak menyimpan utang daripada kenangan manis.
Dulu, visiku adalah peta dunia, tiket pesawat, dan ransel yang penuh cerita. Sekarang, visiku adalah tumpukan laporan keuangan yang berantakan, debu tebal di rak-rak, dan tatapan penuh harap dari beberapa karyawan tua yang menggantungkan hidup padaku. Usiaku baru dua puluh satu, seharusnya aku sedang mengejar beasiswa, bukan mengejar tunggakan sewa.
Malam-malam awal terasa seperti siksaan. Aku harus bernegosiasi dengan pemasok yang sinis dan menolak tawaran dari investor yang hanya ingin mengubah Toko Senja menjadi kedai kopi kekinian. Setiap kegagalan kecil terasa seperti pukulan telak yang merobek idealisme remajaku. Aku menangis bukan karena lelah, tapi karena merasa tidak adil; mengapa aku harus memikul beban yang bukan aku yang ciptakan? Namun, di tengah keputusasaan itu, sebuah suara kecil mulai berbisik. Suara yang menyadari bahwa lari bukan lagi pilihan, dan bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan untuk bertahan. Aku mulai membaca buku-buku manajemen yang dulu kubenci, belajar tentang arus kas, dan bahkan berani memecat salah satu karyawan yang terbukti curang.
Keputusan-keputusan sulit itu mengikis lapisan naif yang selama ini melindungiku. Aku harus mengorbankan waktu tidur, waktu bersosialisasi, bahkan mimpi-mimpi yang sudah kurangkai rapi. Aku belajar bahwa tanggung jawab bukanlah rantai, melainkan sayap yang tumbuh dari tulang punggung yang kuat.
Perjuangan ini, dengan segala pahit getirnya, adalah babak paling esensial dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis. Aku mulai memahami bahwa menjadi dewasa bukan hanya soal bertambahnya usia, melainkan tentang seberapa banyak luka yang berhasil kau jahit sendiri, dan seberapa tulus kau memaafkan dirimu atas kesalahan di masa lalu.
Toko Senja memang belum pulih sepenuhnya, namun kini ia bernapas dengan ritme yang stabil, ritme yang kuciptakan dengan keringat dan air mata. Aku tidak lagi melihat toko ini sebagai beban, melainkan sebagai monumen bisu atas transformasiku. Aku adalah Laras yang baru, seorang pragmatis yang tetap menyimpan sedikit api idealisme di sudut hati.
Mungkin suatu hari nanti, ransel itu akan benar-benar terisi dan aku akan melihat dunia yang kuimpikan. Tapi kini aku tahu, petualangan terbesarku tidak terjadi di benua asing, melainkan di dalam diriku sendiri. Dan jika badai lain datang, aku tidak akan lari; aku sudah tahu bagaimana cara membangun perahu dari puing-puing yang tersisa.
