Aku selalu berpikir kedewasaan adalah tentang usia, bukan beban. Masa mudaku terasa seperti musim semi abadi, penuh tawa tanpa perlu memikirkan tagihan atau masa depan yang rumit. Kenyamanan itu membuatku terlena, percaya bahwa kesulitan hanyalah kisah fiksi yang terjadi pada orang lain.

Semuanya berubah ketika telepon itu berdering di tengah malam, membawa kabar yang merobek ketenangan kami. Ayah, yang selama ini menjadi tiang penopang, mendadak harus menyerahkan kendali atas kedai kopi kecil kami, "Senja Rasa." Dokter bilang ia butuh istirahat total untuk pemulihan, dan tiba-tiba, semua mata tertuju padaku, si anak bungsu yang paling tidak siap. Aroma kopi yang biasanya menenangkan kini terasa seperti bau tanggung jawab yang mencekik leherku.

Malam-malam pertamaku di balik meja kasir adalah bencana yang memalukan. Aku salah menghitung stok, lupa resep andalan, dan hampir membuat pelanggan setia marah karena kopinya terlalu pahit. Rasa ingin menyerah begitu kuat, aku merasa seperti pembohong yang mengenakan jubah seorang pengusaha.

Suatu pagi, aku menemukan buku catatan Ayah, berisi bukan hanya resep, tapi juga catatan kecil tentang setiap pelanggan dan mimpi besarnya untuk tempat ini. Aku menyadari ini bukan sekadar bisnis; ini adalah warisan emosional yang harus kujaga agar api harapan Ayah tetap menyala.

Aku mulai belajar dari nol, membaca laporan keuangan yang rumit dan bangun sebelum matahari terbit untuk memanggang biji kopi. Setiap kegagalan kecil menjadi pelajaran berharga, setiap pujian dari pelanggan terasa seperti medali kehormatan yang berhasil kuraih. Inilah skenario terberat dalam Novel kehidupan yang pernah kubayangkan, sebuah babak yang menuntut kejujuran dan ketekunan yang tak pernah kukira kumiliki.

Kedewasaan ternyata bukan tentang tahu segalanya, melainkan tentang kesediaan untuk mengakui ketidaktahuan dan mencari jalan keluar. Aku belajar bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada absennya masalah, melainkan pada kemampuan untuk berdiri tegak di tengah badai. Aku tidak lagi mencari kenyamanan; aku mencari solusi yang bisa menyelamatkan kami.

Pelanggan mulai memanggilku 'Tuan Muda' dengan nada hormat yang berbeda, bukan lagi ejekan manis seperti dulu. Aku melihat diriku di cermin, dan di sana bukan lagi ada remaja yang manja, melainkan seseorang yang matanya dipenuhi ketenangan yang ditempa oleh api tanggung jawab yang berat.

Pengalaman itu mengajarkanku bahwa hidup tidak memberikan kedewasaan secara cuma-cuma; hidup menuntutnya melalui pengorbanan dan pilihan sulit. Kini, meskipun kedai telah stabil dan Ayah perlahan pulih, aku tahu bahwa tantangan berikutnya akan datang, dan aku tidak akan pernah lagi menjadi orang yang sama. Siapkah aku menghadapi babak selanjutnya dengan keberanian yang baru kutemukan ini?