Arka selalu percaya bahwa bangunan terbaik adalah refleksi dari jiwa pembuatnya. Ia menanamkan seluruh idealismenya pada Proyek Lintang, sebuah menara yang dirancang bukan hanya sebagai struktur, melainkan sebagai monumen ambisi masa mudanya. Ia yakin, inilah mahakarya yang akan mendefinisikan dirinya di mata dunia.

Namun, realitas jauh lebih kejam daripada sketsa di atas kertas. Tepat ketika fondasi siap dipancangkan, badai finansial tak terduga menerjang, menghancurkan seluruh pendanaan dalam semalam. Proyek Lintang dibatalkan, meninggalkan Arka dengan tumpukan cetak biru yang kini terasa hampa dan tak berarti.

Malam-malam berikutnya ia habiskan dalam keheningan, memandang ke langit-langit yang terasa seperti langit-langit penjara yang mengurungnya. Rasa gagal itu begitu menyesakkan, melumpuhkan setiap kreativitas yang pernah ia miliki. Ia merasa seolah bukan hanya proyek itu yang runtuh, tapi juga identitasnya sebagai seorang seniman yang diyakininya.

Arka memutuskan untuk pergi ke desa kecil di kaki gunung, tempat ia bisa melihat horizon tanpa terhalang gedung-gedung tinggi. Di sana, ia bertemu Pak Tua Gema, seorang pembuat perahu yang tangannya dipenuhi kapalan dan matanya menyimpan kebijaksanaan yang mendalam. Pak Tua Gema hanya tersenyum melihat Arka yang terpuruk dalam kesedihan. "Nak, kayu terbaik pun pernah patah sebelum dibentuk menjadi lambung yang kuat," ujar Pak Gema sambil mengamplas sepotong kayu jati. "Bukan seberapa keras kamu jatuh, tapi seberapa cepat kamu mau mengukir lagi setelahnya." Kalimat sederhana itu menusuk ke inti kesombongan Arka yang masih tersisa.

Perlahan, Arka mulai menyadari bahwa hidupnya bukanlah sekadar rangkaian kesuksesan yang linear dan mulus. Setiap kegagalan, setiap penolakan, adalah babak penting dalam Novel kehidupan yang sedang ia tulis dengan tangannya sendiri. Ia harus menerima bahwa beberapa bab memang harus diakhiri dengan duka agar babak baru bisa dimulai dengan resolusi yang jauh lebih matang.

Ia mulai menggambar lagi, bukan untuk membangun menara yang menjulang tinggi, melainkan untuk merancang rumah-rumah sederhana yang menyatu dengan alam. Fokusnya bergeser dari pengakuan dunia menjadi kepuasan dalam proses berkarya yang jujur. Kedewasaan ternyata adalah tentang menemukan keindahan dalam skala yang lebih kecil dan personal, yang selama ini ia abaikan.

Arka kini tahu, kedewasaan bukanlah perisai yang mencegah kita terluka atau patah hati. Sebaliknya, itu adalah seni menerima luka, menjadikannya peta jalan menuju pemahaman diri yang lebih dalam. Ia tidak lagi takut akan kegagalan; ia hanya takut jika ia berhenti mencoba karena rasa takut itu.

Ia kembali ke kota, bukan sebagai Arka yang ambisius dan rapuh, melainkan sebagai seseorang yang telah berdamai dengan puing-puing masa lalu. Proyek Lintang memang telah tiada, tetapi ia kini memiliki fondasi yang jauh lebih kokoh di dalam dirinya. Lantas, proyek besar apa yang akan ia bangun selanjutnya, setelah ia berhasil merancang ulang dirinya sendiri?